by yours truly - pictures from unsplash.


Tahun baru itu memang “lembar bersih” yang membuat orang jadi lebih hopeful termasuk dengan dirinya sendiri. Meskipun memang banyak yang bilang “mulai itu bisa kapan saja, nggak usah tunggu tahun baru”, tetap saja, bagi saya, tahun baru itu semacam kesempatan untuk memulai lagi.

Nggak heran, saya juga termasuk orang yang gemar memulai sesuatu di awal tahun. Nge-blog lagi, contohnya. Tahun baru menjadi semacam waktu reset untuk saya: selain sudah liburan akhir tahun, juga memberikan imaginary blank slate untuk memulai, nggak perlu khawatir dengan kegagalan-kegagalan kemarin ahahaha…. 

Selain itu, tentu saja ada hal klasik yang biasa dibuat di tahun baru: resolusi. Mungkin ada yang bilang resolusi itu klise, tapi saya bagi saya resolusi adalah cara untuk me-reset. Nggak pernah kumplit-plit selesai dengan ideal, namun tetap bagus karena saya mencoba hahaha.

Tahun ini saya ingin fokus dan menyederhanakan tujuan. Lagipula, menyayangi diri sendiri itu butuh skills. Merencanakan adalah salah satunya--setelah setiap tahun seringkali berhenti di tengah jalan.

Mengubah Cara Pandang

Dua puluh hari lebih berjalan di tahun 2021, saya merasa saat ini arahnya bagus. Nggak tahu ya kalau sudah dilempar kerjaan ekstra dan deadline-deadline-nya yang kadang suka agak “lucu”. πŸ˜… Tapi sejauh ini saya senang masih bisa patuh dengan hal-hal yang ingin saya lakukan setiap hari.

Faktor utama yang membuat saya bisa "patuh" adalah mencoba mengubah pendekatan saya selama ini. Iya, kayaknya ada yang salah dengan cara pedekate saya sama si resolusi tahun baru, jadi tahun ini saya mulai dengan:

Fokus pada input, bukan output

Sebelumnya, sulit bagi saya untuk melakukan ini. Saya cenderung memberikan “targetan” kepada diri sendiri, karena kalau tidak ada capaiannya, rasanya nggak asyik dan jadi kurang semangat. 

Padahal, hal ini juga yang bisa jadi bumerang: karena tidak tercapai, semangat pun hilang.

Apa pasal? 

Ini karena target saya biasanya berbentuk output, angka yang “harus tercapai dan dilakukan”. Misalnya 52 post blog, mengurangi 5 kg berat badan, tabungan sampai sekian juta di tahun itu, dan sebagainya. Karena setelah itu saya menuliskan action plan, saya merasa sudah melakukan hal yang benar.

Kesalahan saya adalah jadi terpaku dengan angka-angka tersebut. Ketika tidak tergapai, rasanya langsung ingin mundur (dan ujungnya mundur beneran). Tahun ini, saya hanya membuat hal-hal yang ingin saya lakukan, idealnya setiap hari. 

Hal yang saya lakukan itu tentu saja berhubungan dengan target yang ingin saya capai. Tapi kali ini tidak ada target angka apa pun. Yang penting lakukan terus, jangan terputus. Sejauh ini, saya merasa kepala saya lebih lega, karena fokus saya ada di “melakukan”, bukan mencapai.

One thing at a Time; satu-satu, jangan sekaligus

Meskipun saya membaca teori di atas berkali-kali, namun saya tidak pernah menerapkan hal tersebut benar-benar. Setiap tahun, selalu ada daftar panjang untuk saya “tingkatkan” setiap tahunnya, dan biasanya saya selalu kewalahan sendiri dengan hal-hal yang harus dicapai tersebut.

Mengurangi daftar panjang “perbaikan” rasanya tidak sah. Karena banyak hal yang perlu ditingkatkan, semua hal perlu diubah. Jadinya saya mengubah semua sekaligus--dalam rangka bertransformasi for a better me--and ended up with nothing at all. Hahahaha.

(Plus menganggap diri sendiri sebagai orang yang gagal, pasrah, dan… ya sudahlah)

Pandemi dan segala dinamikanya, beserta emotional roller coaster di dalamnya tentunya, akhirnya membuat saya dipaksa “berhenti”. Berhenti membuat target tidak realistis, berhenti mencoba mencapai semuanya sekaligus.

Tahun ini, sesuai dengan motto utama saya: One thing at a time--alias satu-satu, saya memutuskan untuk nggak ngoyo. Buat apa mendaftar segala hal dan ingin mencapai semuanya, tapi akhirnya nggak bisa mencapai apa-apa? (Huhuhu).

Tentu saja saya masih bisa melakukan hal-hal lain yang ingin saya tingkatkan juga. Hanya saja tidak ngoyo, sambil jalan saja, yang penting tujuan utama tercapai.

Baca juga: Plan With Me, 2021: One Thing at a Time

Buat Tracker

Ehhh, ini hal yang paling malas saya lakukan. Mau meningkatkan diri ya meningkatkan diri saja lah, jangan terobsesi dengan tracking! Begitu pikir saya. 

Padahal hal ini berlawanan dengan pemikiran bahwa setiap target harus ada capaiannya. Lha, bagaimana caranya mencapai kalau tidak ada alat ukurnya, ‘kan? Nggak heran saya seringkali gagal di tiga bulan pertama. (Baru ngeh pas nulis ini, anyway πŸ˜‚)

Kali ini justru terbalik: mencatat progres adalah prioritas, namun tidak ngoyo mengejar hasil. Yang penting berusaha terus agar hal-hal tersebut tetap dilakukan, whether I’m on a bad day or not, whether I'm in chaos or not. 

Untuk tracking, saya menggunakan aplikasi Notion, karena aplikasi itu yang saya buka setiap hari ketika kerja. Contoh habit tracker yang bisa diduplikasi bisa didapatkan di sini. (Cerita lebih lanjut soal Notion akan menyusul!)



2 Hal yang Ingin Saya Tingkatkan di 2021

Tentu saja, masih seperti kemarin-kemarin, saya punya sederetan hal yang ingin saya tingkatkan. Tetapi tahun ini saya mau fokus sedikit demi sedikit saja. Kalau ditarik secara garis besar, dari hal-hal yang ingin saya lakukan, ada dua aspek yang ingin saya tingkatkan - dari sisi fisik dan mental.

Nanti dulu soal beli rumah, nanti dulu soal tabungan. Untungnya di departemen tabungan sih saya nggak ada masalah, karena sudah disiplin menabung dan memenuhi pos-pos yang ada.Terlepas dari itu, tahun ini saya memang ingin investasi untuk diri sendiri, baik dari menjaga kesehatan tubuh maupun pikiran.

Jadi? Sederhana saja: sehat tubuh dan meningkatkan kualitas berpikir. Itu garis besarnya. Nah, rincinya?

Kesehatan Fisik - Bergerak Setiap Hari.

Sudah berapa kali saya cerita di sini kalau fisik saya nggak begitu bagus sepanjang tahun 2020. Mulai dari stres yang bikin asam lambung naik, alergi terus-menerus, dan berat badan yang naik tidak terkendali.

Awalnya sih ya saya cuek, toh tubuh biasanya kembali normal seiring dengan kembalinya aktivitas sehari-hari. Masalahnya, sudah hampir setahun ritme aktivitas hidup kita berubah, and it seems that it won’t change for any time soon.

Jadi ya, in default, kalau saya nggak mengubah kebiasaan secara drastis, akan bahaya untuk tubuh. Ini sudah mulai berasa, dan saya harus sungguh-sungguh sekarang 😣

Memasukkan gerak fisik ke dalam rutinitas pagi. 

Ini adalah langkah pertama yang dilakukan. Target olahraga tiga kali seminggu sepertinya ketinggian buat saya yang setahun ini jadi couch potato, hahahaha!

Jadinya target saya nggak muluk-muluk: Yang penting saya bergerak setiap hari. Agar tidak lupa, sebaiknya dilakukan begitu bangun tidur. Secara tidak langsung ini berarti saya membetulkan morning routine saya juga, karena harus menambah waktu untuk berolahraga.

Bonus bangun lebih pagi ini tentu saja saya terima dengan senang hati, karena dasarnya saya memang morning person. Untuk olahraganya, ke depannya saya akan menambahkan beberapa bodyweight training, tapi sekarang sih disiplin melakukan low-impact stretch saja dulu.

(fyi, ototnya bunyi kretek-kretek gitu setiap gerak.)



Mengambil istirahat saat bekerja.

Kadangkala kalau sedang sibuk, saya bisa lupa istirahat. Bangun dari kursi pun tidak. Hal ini mulai berefek buruk pada saya: low back pain alias nyeri punggung sering menyerang, belum lagi dehidrasi karena kurang minum.

Istirahat juga sebenarnya baik agar saya bisa berkonsentrasi di sesi berikutnya. Ini bukan hal yang sulit dilakukan selama ada reminder. Lagian siapa yang nggak suka istirahat, ya kan. 

Agar saya bisa istirahat lebih teratur, saya menggunakan software gratis, Eyeleo. Software ini memberikan kita reminder setiap waktu yang ditentukan (kalau saya setiap dua puluh menit) untuk bangkit dari kursi dan bergerak atau melakukan stretching ringan.

Soon, belajar lari.

Ini jangka panjang yang tidak saya rencanakan untuk sekarang. Bisa jadi dilakukan tahun ini, bisa jadi juga tidak. Setelah tiga bulan mungkin akan saya review kembali.

Lari adalah olahraga yang paling saya benci dari dulu, dan saya paling nggak bisa lari. Jangan harap saya bisa melakukan maraton, lari jarak pendek aja udah kayak hilang nyawa separuh. Makanyaaa, pasang target bisa maraton tahun ini kayaknya masih kejauhan.

Tapi saya selalu ingin bisa lari, karena ingin meningkatkan ketahanan paru-paru, dan pastinya baik untuk sinusitis yang saya derita. Masih belum saya canangkan sekarang, namun InsyaAllah akan dijalankan.

Mind Improvement - Menulis dan Membaca yang Bermanfaat πŸ€—

Tidak cuma fisik, mental saya juga lumayan exhausted di tahun 2020. Fisik dan mental bertautan, nggak salah juga bilang mereka saling mempengaruhi. Stres bikin asam lambung, asam lambung bikin stres, and so on. Nggak selesai-selesai deh. 

Belum lagi alergi yang muncul kalau saya stres, mulai dari gatal-gatal dan sinus yang bengkak bikin susah tidur (dan parno).

Setelah refleksi diri, hal tersebut terjadi karena lose self-control sih. Saya cenderung memilih kegiatan yang memberikan short-term reward tapi destroying long term reward in the process. Contohnya mindless social media scrolling and browsing (karena saya bekerja di ranah sosial media juga, jadinya sulit untuk menghindar).

Sulit bukan berarti tidak bisa. Saya hanya perlu trigger lebih untuk kegiatan-kegiatan lain yang saya suka dan tentu saja memberikan mind improvement.

Menulis setiap hari. 

Ini sudah saya jelaskan lebih rinci di postingan sebelumnya, dan sekarang sedang saya lakukan. Sebelumnya, menulis saya jadikan kegiatan yang “spesial”: harus dijadwalkan, harus jelas akan menulis apa, dan harus selesai. 

Ternyata target itu tidak sustainable untuk saya, dan malah membuat saya meninggalkan kegiatan menulis. Sekarang, saya menjadikan menulis sebagai hal yang biasa dan saya prioritaskan - dan dimasukkan ke dalam rutinitas pagi, waktu di mana saya paling fokus. 

Saya menulis tiga puluh menit sampai satu jam setiap harinya, terlepas dari selesai atau tidak. Ternyata, saya malah menulis jauh lebih banyak dibandingkan kalau saya menjadwalkan secara khusus. Senang :D Semua terkumpul dalam draft-draft post yang menunggu di-polish dan publish. Tapi saya nggak mau ngebut, pelan-pelan saja dipublikasikannya.

Membaca setiap hari. 

Alatnya sudah disiapkan, niatnya sudah ada, tinggal waktunya yang disediakan. Sesungguhnya, ini termasuk kegiatan leisure, jadi mudah saja untuk dilakukan. Tapi kadang, masih kalah dengan godaan buat mindless scrolling dan browsing.

Nggak ada target khusus selain 12 buku di tahun ini, tapi itu pun tidak ketat; kalau kurang tidak apa-apa, kalau lebih ya bagus. Berhubung saya sudah beli kindle, jadi yang bisa saya lakukan untuk mengurangi godaan scrolling adalah meninggalkan ponsel ketika sudah waktunya istirahat atau waktu luang.

Sejauh ini sih tentu masih sulit untuk fokus. Tapi kalau sudah tenggelam, ya tetap bisa lupa waktu kok. Kalau kata suami saya, “mukanya sewot banget.” Karena muka saya yang lagi serius baca tuh kayak orang lagi sewot πŸ˜…

Private personal project. 

Lagi, ini adalah tujuan jangka panjang. Bisa terlaksana di tahun ini, bisa tidak. Secara tidak langsung, peningkatan kualitas hidup dengan hal-hal yang saya lakukan di atas akan memberikan saya lebih banyak waktu dan fokus untuk melakukan hal lain.

Proyek pribadi ini bisa berupa belajar, seperti yang saya utarakan di postingannya mbak Jane tentang lifelong learning; atau membuat sesuatu (bukan blog), yang tahun lalu juga sempat saya lakukan tapi kurang maksimal. Kali ini saya nggak mau buru-buru, pelan-pelan saja menyesuaikan dengan kemampuan diri. Doakan saya ya. (Kayak Benteng Takeshi).

ini tuh jebakan umur banget yaak...


Baca juga:
Antara Rebahan, Menjaga Kesehatan, dan Melindungi Pikiran Saat #dirumahaja

Final Verdict

Sesungguhnya, mendeklarasikan ini lumayan bikin saya ketar-ketir karena ini berarti saya mengumumkan target saya pada blogosfer. Tentu saja, akhir tahun nanti harus ada review juga, jadinya. Or quarter review, biar nggak kaget dan ada alasan untuk ngasih [s]insentif[/s] reward pada diri sendiri.

Meskipun sebenarnya, hal-hal yang ingin saya lakukan itu sesungguhnya akan jadi reward tersendiri untuk diri. Karena memang semua itu untuk kebaikan diri sendiri. Jadi setiap kali pusing dan mau nyerah, kayaknya saya harus balik dan lihat postingan ini lagi.

Anyway, terima kasih pada Mbak Eno (Creameno), yang membuat saya jadi menuliskan hal ini lebih rinci. Sebelumnya, hal-hal ini hanya jadi coretan bebas di agenda untuk saya ingat sendiri, dibaca sendiri, dilakukan sendiri.

Berkat challenge yang diadakan blognya, saya jadi menuliskannya dengan lebih sistematis dan membuatnya dibaca oleh dunia, jadi sepertinya saya harus lebih konsisten dengan hal yang ingin saya lakukan di tahun ini 😎


Semangat buat saya (dan kamu juga),
Mega