The Importance of Self-Care

Tuesday, September 20, 2016


DOWNLOAD FOR PHONE // DOWNLOAD FOR DESKTOP

Setiap hari, saya berangkat pukul 5:30 pagi teng. Jam pulang kantor adalah 16:30, dan kalau nggak macet, saya bisa sampai rumah pukul 18:30. Kalau sial, bisa pukul 19:30 baru sampai. Meja makan kosong menyambut saya begitu masuk. Cek nasi, sudah tentu habis, karena memang saya yang tanggung jawab atas dapur. Cucian piring nambah karena ada orang yang makan. Ruang tengah berantakan. Harusnya saya masak nasi, tapi alih-alih itu, yang ada saya tiduran, malas mikir, diam sampai pukul sembilan malam.

Burned out, itu istilah populernya.

Belakangan ini saya baru sadar kalau saya sering mengabaikan diri sendiri. Alasan kesibukan dan keluarga bikin saya malas mikirin hal-hal semacam perawatan diri. Setiap hari kerja practically saya hanya numpang tidur di rumah. Begitu pulang sudah malas mikir, boro-boro mikirin gizi makanan yang dimakan atau apa yang harus dibersihkan.

Sadar-sadar seterikaan menumpuk selama dua minggu, berat badan tidak terkendali, dan jerawat bermunculan. Akibatnya saya jadi gampang marah, kesal karena tidak ada yang selesai--biarpun sebenarnya waktu saya habis untuk mengerjakan banyak hal. Setiap pulang ke rumah, kata-kata pertama yang saya katakan adalah "Capek banget!"

Sampai di suatu sesi curhat sama temen, dia komentar: "Kamu kok kayaknya susah melulu sih, Neng?"

Komentar dari teman saya itu lumayan nanjleb. Karena itu berarti saya terlalu banyak mengeluh. Bukannya saya nggak membolehkan diri ngeluh ya. Ngeluh itu sehat dan dibutuhkan, tapi kalau sampai teman kita juga notice.... hmmm... kayaknya ada yang harus dievaluasi.


from Bubble Gum by Arvida Bystrom

Self-care dan rutinitas


Ketika kesibukan datang, kita memang seringkali lupa dengan diri sendiri. Fokus kita lebih terpaku pada hal yang harus diselesaikan, mengejar deadline dan kebutuhan yang kayaknya datang silih berganti.

Kalau capek bawaannya cuma mikir dua: butuh cuti/liburan, atau butuh belanja, hahaha. Dua hal yang sebenarnya bisa dibilang cukup besar komitmennya: baik komitmen waktu maupun materi.

Nyatanya, kesibukan itu nggak kenal waktu cuti, nggak kenal pola hidup kita. Menunggu cuti atau belanja sampai jebol hanya akan membuat kita makin pusing karena tidak bisa selalu mengabulkan keinginan tersebut. Jadi, sebisa mungkin kita memang harus memasukkan me time ke dalam rutinitas sehari-hari, sesibuk apa pun itu.

Me time ini nggak perlu ribet, apalagi mahal.


from Palm Springs by Mayan Toledano

Simple ways to take care of yourself


Merencanakan liburan atau belanja sebagai retail therapy memang bentuk dari self-care. Tapi hal-hal di bawah ini juga merupakan beberapa bentuk self-care yang mudah dilakukan dan gampang juga dimasukkan ke kehidupan sehari-hari. Malah, memang sebaiknya dilakukan secara otomatis, sehingga kita nggak gampang terbawa kesibukan dan stres.

Saya sendiri juga masih sering lupa sih--kayaknya lebih gampang marah-marah dan bete seharian daripada berusaha ingat dan beradaptasi. Yah, sama-sama berusahalah, hehe.

Tidur cukup & teratur
Ini yang nggak boleh ketinggalan. Biarpun sibuk, sebisa mungkin tidur kita harus cukup: minimal 6 jam. Bahaya tidur tidak teratur juga banyak, dan tentu saja akibatnya bisa ke kegiatan kita sehari-hari.

Usahakan jam tidur dan jam bangun juga sama setiap harinya. Kalau bisa, lebih pagi. Jadi mengerjakan berbagai hal nggak akan terburu-buru, terutama untuk kita yang masuk kerja / kuliah pagi.

Do everything mindfully
What is mindfulness? Pada dasarnya, artinya adalah menyadari dengan benar-benar apa pun yang kita lakukan. Kegiatan sehari-hari yang jadi rutinitas biasanya kita lakukan secara autopilot, seperti mandi, makan, bahkan berjalan kaki. Pikiran kita pergi ke pekerjaan yang menunggu atau masalah yang ada hari itu, tanpa memperhatikan hal yang kita kerjakan.

Hal itu yang menyebabkan kita seringkali merasa kekurangan waktu. Dengan mempraktekkan Mindfulness, kita berkonsentrasi pada apa yang sedang kita lakukan. Nggak perlu mikirin apa pun. Kalau kita sedang makan, fokuskan pada makanan yang dimakan, suasana makan (sendiri, sama teman, atau keluarga), dan keberadaanmu di sana. Kalau sedang bekerja, kita aware dengan apa yang kita kerjakan dan manfaat dari pekerjaan tersebut.

Live at the present instead of worrying about the future. (I'm guilty for this, a lot.)

Be your own bestfriend
Kalau dengerin temen curhat, biasanya ngapain sih? Dengerin dia sampai selesai, lalu menemani dia, memberikan dia saran yang menurut kita paling baik. Kita ingin teman kita dapat yang terbaik--solusi yang membuat dia tetap nyaman, tapi juga membantu menyelesaikan masalahnya. Kita pengen bikin dia merasa lebih baik, karena kita sayang sama dia.

Sekarang, bagaimana kalau sahabat itu adalah kita sendiri? Apakah kita sudah mendengarkan tubuh dan pikiran kita? Lebih perhatian sama kebutuhan diri, tujuan dan mencarikan apa yang paling baik untuk kita sendiri adalah hal utama yang harus diperhatikan terus menerus.

Habiskan waktu sendiri
Maksudnya bukan berarti menyendiri nggak mau ngobrol sama orang. Soalnya, ketemu dan ngobrol sama temen juga menambah semangat dan mengurangi stres, hahaha. Berikan diri sendiri quality time di mana kita bisa mengerjakan apa pun yang kita mau sendiri tanpa gangguan.

Mungkin bisa fokus ke mengerjakan hobi, iseng spa sendiri di rumah, belanja dikit (asal nggak sampai budget bulanannya jebol, yaaak), atau coba-cobain make-up yang kemarin belum sempat diulik?

Saya sadar banget kemarin stres karena nggak menyediakan waktu untuk menulis atau membaca. Padahal menghabiskan waktu buat tidur-tiduran atau scroll social media juga sering. Makanya, sekarang saya berusaha menyediakan waktu untuk menulis biarpun sebentar. (Mudah-mudahan bloggingnya juga jadi lancar, haha).

Exercise
Karena olahraga bukan untuk yang ingin diet saja, tapi juga mengurangi stres. Buat yang kerjanya duduk melulu atau ngedeprok di studio melulu a la mahasiswa seni rupa kejar deadline curhat , malahan juga melepaskan hormon yang bikin kita bahagia. Entah lari, berenang, atau jalan santai, badan harus bergerak seluruhnya secara rutin.

Anyway, kemarin saya semangat banget kan nyobain 7-minute workout. Sekarang saya udah coba metode lain sih, tapi yang pasti, berusaha olahraga biarpun sedikit.


from Russian Dacha by Masha Mel.

Self-care itu tidak egois


Pada dasarnya, self-care adalah bertanggung jawab sepenuhnya pada kesehatan fisik, emosi, intelektual, dan juga spiritual kita. Jadi tindakan self-care itu bukan egoisme--justru upaya pencegahan agar kita bisa selalu beraktivitas dengan maksimal dan tentunya tetap bahagia. Kalau kita tahu pasti ada hal baik yang bakal kita dapat--dengan cara memperhatikan diri sendiri--melakukan pekerjaan atau kewajiban-kewajiban lainnya juga nggak bakal terasa berat.

Seperti kata quote di atas: karena banyak yang harus kita perhatikan, memperhatikan diri sendiri lebih dulu adalah cara agar orang-orang di sekitar kita mendapatkan diri kita yang terbaik. Dan siapa lagi yang paling sayang diri kita, kalau bukan diri kita sendiri?

(Abis itu, silakan berbagi sayang sama orang lain. Kiw.)

read more:
45 simple self care practices for a healthy mind, body, and soul
Take care of you first
5 Self care practice every women needs to do today

You Might Also Like

1 comments

  1. I agree with you mbak. Terutama bagian simple self care practice, kita tau ilmunya tapi di bagian praktek suka susah,, padahal untuk diri kita sendiri

    ReplyDelete

let's share, do tell! got a blog? I'll visit yours too :)