Notifikasi whatsapp datang dari sekretariat seminggu yang lalu. 

“Teh, Senin mulai masuk kantor lagi ya! Piket seminggu dua kali masuk kantor.”

Percaya nggak percaya, baru kemarin itu rasanya senang banget bisa masuk kantor lagi, hahahaha. Kantor saya memang termasuk ketat menerapkan kebijakan masuk, karena merupakan instansi dengan penghuni banyak. Sekitar 10.000 orang beraktivitas sehari-hari dalam kondisi normal.

Dua bulan sudah saya menjalani work from home. Sama dengan banyak pekerja lainnya yang terpaksa bekerja dari rumah karena pandemi yang mengancam. Nggak heran, selama dua bulan terakhir saya benar-benar di rumah saja, dan dokumen di kantor dikirimkan menggunakan ojek online. 

Sebagai kaum pekerja yang masih bisa bekerja di rumah dan mendapatkan gaji, kami masih termasuk beruntung. Banyak usaha yang terpaksa harus gulung tikar, atau mengurangi pegawai demi bisa bertahan. 

Ada juga teman-teman saya yang meskipun kebijakan di atas kertasnya WFH, mereka tetap harus ke kantor karena kejar setoran. Belum lagi Nakes yang tidak usah dituliskan lagi perjuangannya, meskipun situasi dan kebijakan yang masih tidak kondusif sampai memunculkan tagar #indonesiaterserah.

Sebenarnya, situasi Indonesia sendiri masih tidak bisa diprediksi. Saat saya menulis tulisan ini, kasus per hari sudah mencapai seribu. (informasi dari Tweet Nuice Media). Dengan begini, masih diragukan kita sudah lewat puncak atau belum. Apalagi karena saat Idul Fitri kemarin masyarakat masih ngotot berkerumun demi baju baru. 

Lihatnya sampai gatel, asli :(


Di Bandung sendiri, penambahan jumlah kasus sudah berkurang. Rumah Sakit Hasan Sadikin sudah bersiap membuka layanan kesehatan non-covid 19, setelah menjadi RS rujukan propinsi selama pandemi. Menurut kerabat saya pun, relawan yang tadinya ada puluhan, sekarang tinggal belasan. Karena itu, saya lumayan positive thinking untuk situasi ini.

Suami saya sudah kembali ke kantor dengan jadwal normal. Saya sendiri? Setelah berusaha juggling antara kerjaan rumah dan kantor di rumah, mengatur waktu agar tetap produktif (meskipun masih suka jebol juga), akhirnya saya bisa kembali ke kantor. 

Huhuhu, senangnya. Maklum, terisolasi di rumah membuat saya sampai sakit dan harus benar-benar menjaga pikiran agar tetap sehat selama pandemi. 

Meskipun ya, memang, semua tidak akan sama lagi seperti sebelum masa pandemi. Harus bersiap transisi dalam budaya baru, kembali beradaptasi, sambil tetap waspada dan bersiap untuk segala kemungkinan. Jadi, saya mau berbagi sedikit tentang kebijakan kantor saya sekarang, serta apa yang harus dipersiapkan saat kembali ke kantor dan bekerja lagi.

Memangnya, Seperti Apa Dunia Kerja Setelah New Normal Berlaku?



Apa yang tadinya kita pikir “akan berakhir”, ternyata harus menjadi hal yang kita hadapi sebagai sesuatu yang biasa. Bisnis sekarang berpindah ke metode online, dan kurir serta layanan kesehatan jadi peluang bisnis paling besar. Restoran membuat opsi menu siap masak serta menutup layanan dine-in. Berbagai merek baju mendadak ngasih bonus masker kain untuk tiap pembelian tertentu.

(Ngomong-ngomong, lucu juga lihat-lihat merek desainer yang sekarang ngeluarin masker juga. Saya nggak bakal beli masker merek Proenza Schouler, but I can see people will take masks as fashion items.)
Meskipun penyebaran Novel Coronavirus ini bisa dikurangi dan dihentikan, risiko munculnya gelombang baru tetap akan muncul selama vaksin belum tersedia. Kemungkinan vaksin ada bisa jadi masih setahun atau dua tahun lagi. Dengan pengalaman ini, bukan tidak mungkin akan ada penyakit mematikan baru yang tidak kalah dengan COVID-19 sekarang. 

Itu yang tertulis di artikel bbc: How Covid-19 Could Redesign Our World. Seperti judul artikelnya, pandemi ini bisa jadi akan membuat dunia kita didesain ulang agar meminimalisir bencana yang terjadi beberapa waktu terakhir.

Di kantor saya sendiri, hal-hal berikut diterapkan selama masa transisi untuk new normal. Mudah-mudahan, hal ini juga diterapkan untuk tempat bekerja teman-teman.

Memberlakukan Sistem Shift/Piket Bergilir. 

Untuk mengurangi kepadatan ruangan, jumlah orang yang ada di dalam ruangan setiap harinya dibatasi. Ini berarti semua orang masuk bergilir, dengan jumlah hari kerja 2-3 hari setiap minggunya.

Larangan Penggunaan Air Conditioner. 

Untuk mencegah virus “berputar” di dalam ruangan, maka kami dilarang menyalakan AC dan diharuskan membuka semua jendela. Kesan dan pesan? Tentu saja gerah.

Istirahat dan Ibadah bergantian.

 Karena mushola kantor kecil, ibadah pun harus dibatasi tiga orang per kegiatan. Alat ibadah bersama dan sajadah pun dihilangkan. Semua harus membawa sendiri.

Jaga Jarak Fisik dan Tidak Bersentuhan.

Ruangan kantor saya sempit, jadi sebisa mungkin kami harus bergiliran setiap melewati koridor. Banyak di antara kami yang memilih menggunakan sarung tangan, juga tetap mengenakan jaket.

Maksimalisasi Digital Platform.

Karena semua orang tidak dapat dikumpulkan di hari dan ruangan yang sama, rapat konferensi digital sudah menjadi norma. Sebisa mungkin kami juga membuat agar tugas bisa dikerjakan secara online.

bacaan lebih lanjut: ini dan ini.


Persiapan New Normal Untuk Diri Sendiri Saat Kembali Bekerja

 

Meskipun kantor sudah bersiap, kita sendiri juga tidak boleh lengah. Pada dasarnya kita ‘kan harus tetap menjaga diri sendiri dan juga orang lain yang sudah menjaga diri. Hehehe jagaception. Maksudnya ya, jangan mentang-mentang kantor sudah menyediakan lingkungan optimal untuk berjaga, kita jadi seenaknya.

Saya juga masih penyesuaian, nih, jadi belum semua keperluan bisa teroptimalkan. Semoga dalam waktu dekat, sudah melekat jadi kebiasaan, terutama hal-hal yang harus dibawa, hahaha.

Bawa Bekal Makan Siang. 

Sejak awal, saya memang sudah biasa membawa makan siang. Tetapi biasanya diseling dengan hari malas dan hari untuk jajan dengan teman-teman. Sekarang, mau tidak mau saya harus membawa bekal setiap ke kantor - juga menyiapkan bekal untuk suami setiap hari. Kabar baiknya adalah pengeluaran makan lebih hemat.

Tidak Mampir-Mampir, Meskipun Bisnis Sudah Mulai Buka Kembali. 

Memang, ‘menyehatkan ekonomi’ sepertinya menjadi tujuan utama dari aturan new normal ini - sesuatu yang sebenarnya membuat saya juga mengernyitkan kening. Tapi kembali ke normal bukan berarti sudah aman.

Restoran dan tempat makan sudah kembali menyediakan opsi dine-in, namun sebaiknya tetap menggunakan pesan antar atau drive-thru saja. Nongkrong juga tidak perlu-perlu amat. Sudah gatal rasanya ingin jalan di mal dan menikmati suasana, tapi daripada merasa tidak aman, rumah masih menjadi opsi utama tempat hang out :D

Minimalisir Penggunaan Uang Cash

Uang adalah salah satu jalur mudah penularan coronavirus COVID-19, jadi saya tetap menggunakan transaksi online sebagai prioritas. Memang sih, ada opsi mencuci tangan setelah memegang uang, tapi kalau bisa diminimalisir, mengapa tidak?

Langsung Mandi Begitu Sampai Rumah. 

Saya lumayan rewel pada suami. Begitu pulang kantor, pokoknya dilarang pegang apa pun, harus langsung mandi. Tapi saat mulai bekerja kembali, memang sangat terasa saat pulang penat dan ingin istirahat dulu. Nevertheless, protokol tetap harus berjalan. Mandi! Lumayan, badan juga lebih segar untuk berkegiatan lagi. 

Tetap Menjaga Sistem Imun. 

Sebaiknya sih dijadikan kebiasaan sehari-hari. Makan sehat, selalu memasukkan buah dan sayur ke dalam menu, serta jajan-jajan junk food seminggu sekali saja. Karena mau bagaimanapun, saya suka seblak.Vitamin juga masih stand by.


Barang-Barang Wajib Bawa Ketika Beraktivitas



Sudah banyak gambar yang wara-wiri menginformasikan apa saja yang harus kita bawa, terutama bagi yang menggunakan transportasi umum. Masker dan masker cadangan, hand sanitizer, sabun cair, tisu, perlengkapan ibadah dan perlengkapan makan serta minum sendiri adalah sebuah kewajiban sekarang, alih-alih tambahan.

Biasanya, saya suka pakai tas ukuran kecil kalau ke kantor. Mau tak mau, sekarang bawaan saya jadi lebih banyak. Tapi, daripada tidak aman, kan?

Shop the post! 1. Wardah Nature Daily Aloe Hydramild Hand Gel 100 ml, IDR 19.900, Wardah Official |  2. Masker kain, IDR 8.900/pcs, Brotherlabel | 3. Dettol Antiseptic Liquid 750mL, IDR 94.600, Dettol Official Store | 4. Japan Stainless Steel Tumbler, IDR. 53.000, Koko Hoki |  5. Miniso Official Travel Bottle Set, IDR 39.900, Miniso Official | 6. Mukena Travel, IDR. 147.900, Syafana Gallery  | 7. LITTERLESS Tote Bag, IDR. 150.000, Kora Tote Bag | 8. Lunch Box 4 Sekat, IDR 49.900, Cellis Supplier Store | 9. Dettol Wipes, IDR 11.900, Unik Jaya Shop

The Silver Lining

Saat ini memang rasanya seperti perang. Perang dengan sesuatu yang tidak terlihat, perang dengan situasi yang tak menentu sembari tetap bertahan hidup. Entah bertahan hidup dari sisi kesehatan, finansial, juga menjaga mental. 

Setelah berusaha menjaga kesehatan saat #dirumahaja - bisa dibaca di sini bagi yang masih di rumah - kini kita sudah mulai beraktivitas kembali, namun keadaan di luar masih sama berisiko. Waktunya beradaptasi lebih baik dengan situasi, sambil tetap berharap, berusaha dan berdoa semoga situasi segera lebih baik.

Selamat bekerja di kantor lagi,

Mega