Weekend Book Club: Focus, by Leo Babauta

by - April 01, 2016

not the actual published cover.

Di dalam post ini, ada tautan buku gratis. Yep! Karena ebook yang saya baca kali ini gratis dan bebas disebarkan pada siapa saja. So click around.

Bulan Maret ini, saya gagal membaca buku dengan benar. Sering terdistraksi dan tidak fokus. Ironisnya, buku yang saya baca bulan ini judulnya "Focus". Sedih nggak sih? Jadinya sebal juga sama diri sendiri.

Tapi itu bukan karena bukunya jelek kok. Malah buku ini bagus, saya rekomendasikan buat siapa saja yang ingin meningkatkan kualitas hidup. Dengan syarat: Nggak cuma dibaca, tapi juga dipraktekkan (tentu dong). Tips-tips yang ada praktikal dan berkesinambungan, dan semua dibahas secara ekstensif. Actually, penyebab mengapa saya menunda-nunda buku ini... ya, karena salah saya sendiri.

So why would I recommend this book?



Focus: a Simplicity Manifesto in the Age of Distraction


Focus merupakan buah karya Leo Babauta, blogger yang blognya pernah menjadi blog dengan pembaca paling banyak di dunia. Seriously. Dan itu dia lakukan dalam bentuk one-man show, tanpa tim, tanpa perusahaan besar, whatsoever. Blognya, Zen Habits, dibaca jutaan pengguna internet setiap hari. Bahasannya secara garis besar adalah tentang hidup sederhana dan lebih sehat; to change our life for the better, begitulah misinya. Saat ini Leo menjadi semacam go-to resource bagi yang tertarik dengan gaya hidup minimalis.

Saya membaca Zen Habits sejak SMA. Tepatnya sewaktu saya menerima tongkat estafet sebagai pengurus rumah tangga dari Ibu saya. Sehari-hari saya cenderung 'dilepas' oleh Ayah - secara emosional, waktu itu, saya versi remaja merasa kurang mendapatkan bimbingan. Plus saya juga grogi, bingung harus melakukan apa. Membaca Zen Habits seperti dibimbing secara tidak langsung tentang kehidupan; sedikit demi sedikit, mindset saya juga jadi terpengaruh.

Nggak semuanya sih, karena sebagai perempuan, saya masih suka belanja dan dandan dengan berbagai macam warna. So I won't trade my make up or beauty routine for the sake of high-key minimalism and living with just one suitcase.

Well, that's another story.

Buku ini bukan buku yang neko-neko. Focus, seperti judulnya, adalah tentang fokus. Memang, awalnya akan terasa aneh. Untuk apa buku yang tebalnya 120 halaman membahas soal "fokus" saja? Tidak membahas yang lain, seperti produktivitas, cara menambah penghasilan, atau sebagainya?

Ini karena fokus adalah perilaku yang mendasari hal-hal lain tersebut. Yang membuat kita berhasil bukanlah karena kita pintar sejak lahir, tetapi konsistensi. Fokus melakukan sesuatu dan terus mempraktekkannya sampai kita melakukannya karena insting dan kebiasaan, bukan karena merasa harus. Dengan ini kualitas pekerjaan akan lebih baik dan kita pun akan lebih mahir.

Computers are taking over our lives. And while I’m as pro-technology as the next guy (more so in many cases), I also think we need to consider the consequences of this new lifestyle. Because we’ve created a new lifestyle very rapidly, and I’m not sure we’re prepared for it. We don’t have new strategies for dealing with being connected most of the time, we don’t have new cultural norms, nor have we figured out if this is the best way to live life. We’ve been plunged into it, before we could develop a system for handling it.

Fokus menjadi hal yang penting untuk dikaji, karena saat ini kita hidup serba terkoneksi. Smartphone, internet, informasi dalam berbagai bentuk - terhubung adalah gaya hidup saat ini. Pertanyaannya, apakah hal itu tidak berpengaruh pada cara kerja kita? Pada kenyataannya, cara kerja kita sudah banyak berubah sejak internet menjadi hal yang wajar dalam kehidupan sehari-hari. Lebih sulit untuk membaca dengan tekun, sulit juga untuk berkonsentrasi pada satu hal karena kita terbiasa mengerjakan semuanya sekaligus.

Padahal, seperti dijelaskan di atas, fokus adalah hal yang membuat kita mahir dan terbiasa melakukan sesuatu. Otak kita tidak dirancang untuk mengerjakan beberapa hal sekaligus. Buku ini mengajak kita untuk kembali memusatkan pikiran dan cara hidup, dan dengan sendirinya, meningkatkan ketenangan dan produktivitas.

Mengeliminasi hal yang tidak penting agar bisa fokus pada aspek kehidupan kita yang lebih penting, begitulah premisnya. "Penting" dan "Tidak Penting" ini, kita sendiri yang menentukan. Mengapa perhatian kita begitu mudah teralihkan? Apa yang paling penting untuk kita? Bagaimana caranya agar kita dapat fokus ke hal tersebut?

Sebagai justifikasi - buku ini memang bukan pertama kalinya saya baca. Hanya saja, terakhir membaca sudah lama sekali, dan setelah itu saya hanya membaca bukunya di bagian yang saya perlukan. Bulan kemarin, saya berniat untuk membaca lagi dari awal. Memang banyak bagian yang sudah saya lupa, jadi rasanya disegarkan. Di sisi lain, karena saya juga pembaca setia blog Leo - membaca buku ini rasanya repetitif, strukturnya bisa saya kenali. Jadinya bosan dan mudah terdistraksi, deh. Hahaha....

Setelah ini, sepertinya saya akan kembali membacanya kalau merasa perlu saja. Focus terbagi dalam dua bagian - free dan premium. Buku yang saya baca adalah versi gratis. Meski labelnya gratis, materi di buku ini sudah sangat lengkap sampai saya merasa nggak perlu membeli versi premium.

Unduh Gratis


Buku Focus versi gratis ini diletakkan di public domain dengan status uncopyright. Dengan kata lain, isi bukunya bebas untuk dicetak, disebarkan, diolah lagi, dan sebagainya - dengan syarat tidak untuk mengambil keuntungan. Fair game, mengingat dia memberikan buku ini dengan gratis.

Well, sharing is caring. Maka, bagi yang berminat membaca Focus, unduh bukunya DI SINI.


You May Also Like

0 comments

let's share, do tell! got a blog? I'll visit yours too :)