Minimalism: A state of mind about Less is More

by - March 15, 2016


Apa yang terbayang di kepala ketika mendengar atau membaca kata Minimalism?

Warna serba putih dan ruangan kosong? Traveling keliling dunia dengan satu tas ransel?

Buat kita yang bekerja kantoran atau memiliki komitmen keluarga, will sneers at this.

We heard "minimalism" word a lot these days. These past years minimalism and slow movement exploded like crazy, especially in USA. Majalah Kinfolk adalah salah satu majalah yang mengapresiasi dua konsep tersebut secara penuh.

Well, untuk kasus ekstrem, memang bisa saja begitu - seperti orang yang hanya memiliki 15 barang ini.

Secara singkat, minimalisme berarti hidup dengan sederhana - mengurangi barang-barang atau sesuatu yang membuat kita tidak bisa menikmati hidup dengan maksimal. Dengan mengeliminasi yang tidak perlu, maka kita bisa berfokus pada hal lain yang lebih penting.

Hal yang bisa dieliminasi ini bisa berupa apa saja: barang yang dimiliki, keinginan membeli, proyek, sampai komitmen untuk suatu kegiatan.

Sekilas memang seperti mengorbankan kesenangan hidup. Kalau begitu, mengapa gaya hidup ini menjadi begitu populer?



Why Minimalism?


Refocusing and Repurposing our life . Mengurangi barang dan komitmen membuat kita dapat menilai kembali apa yang benar-benar membuat kita bahagia. Sering kita membeli atau melakukan sesuatu hanya karena orang lain melakukannya.

Memprioritaskan pilihan dan fokus akan membuat kita mengenali kembali diri sendiri lebih baik. Dengan melepaskan diri dari barang-barang, kita dipaksa untuk melihat ke dalam diri - apa yang benar-benar penting bagi kita?

A full control of our freedom. Dengan memfokuskan kembali hal yang menurut kita penting, maka kita akan mendapatkan kebebasan baru.

Kebebasan dari tidak harus mengikuti tren terbaru, atau kebebasan untuk melakukan hal yang kita mau tanpa harus merasa kehabisan waktu. Lebih banyak energi untuk melakukan hal yang kita sukai tanpa harus merasa bersalah.

Less stuff and more money. Yang ini tentunya paling saya suka (hahaha). Secara logis, tidak memiliki banyak barang juga akan membuat kita lebih berhemat.

Contohnya: tidak memiliki mobil akan menghilangkan biaya perawatan, tidak memiliki banyak pakaian berarti tidak membutuhkan banyak ruangan, tidak makan di luar berarti tidak perlu mengeluarkan biaya transport dan makanannya sendiri.

and so forth, and so on.

Easier living. Sekarang ini dunia sudah semakin fast-paced. Rasanya selalu takut tertinggal, karena selalu ada yang baru. Melepaskan diri dari "keharusan memiliki yang baru" akan membuat hidup lebih mudah.

Penyederhanaan komitmen terhadap barang atau kegiatan menghilangkan distraksi, dan dengan sendirinya, memberikan kita ruang untuk fokus pada hal yang benar-benar kita sukai. Gaya hidup minimalis memberikan ruang untuk bernapas.

Quality, not Quantity. Perpanjangan dari hal-hal di atas adalah mendapatkan kehidupan yang berdasarkan kualitas, bukan kuantitas. Kebahagiaan tidak bergantung pada jumlah, tapi sejauh apa kita menikmati dan memanfaatkan apa yang kita punya.


Overall Thoughts


Ada beberapa yang menganggap gaya hidup minimalis berarti mengorbankan hal yang kita sukai - atau mempersulit diri.

Pada dasarnya, patokan gaya hidup minimalis selalu bergantung pada diri kita sendiri. Minimalis adalah gaya hidup dan sebuah pemikiran - tidak ada patokan ukuran atau keharusan. Setiap orang memiliki cara hidup minimalis sendiri-sendiri.

Misalnya: Kalau memiliki keluarga besar, maka akan lebih mudah untuk tetap memiliki mobil. Karena itu, tidak perlu menghilangkan mobil, tapi cukup mengurangi pemakaiannya bila hanya dipakai satu orang.

Atau: Kita mengoleksi make-up, dan tidak mau berhenti mengoleksi. Tidak perlu membuang semuanya ke tong sampah. Hanya saja, mulai sekarang, hanya membeli kosmetik yang benar-benar kita suka dan akan dipakai - bukannya belanja buta karena merasa harus.

Hanya karena kita punya gaya hidup minimalis, bukan berarti kita cuma punya satu ruangan dengan kasur dan lima lembar baju. Afterall, setiap praktek minimalisme orang akan berbeda-beda. Karena semua orang tentu punya kebutuhan dan prioritas yang berbeda.

But I believe this way of thinking will gradually make us a better person. :)

Further Minimalist Reading
Zen Habits by Leo Babauta.
Becoming Minimalist by Joshua Becker.
The Minimalists by Joshua Fields Millburn & Ryan Nicodemus.

You May Also Like

0 comments

let's share, do tell! got a blog? I'll visit yours too :)