Hemlo!

As for now, saya lagi nge-render video untuk ke-dua belas kalinya. Untuk video yang sama. Huhuhu.

Mungkin temans sadar kalau saya nggak wara-wiri di blog teman-teman sekira dua minggu terakhir. Tulisan masih ada di blog, tapi semuanya berkat scheduled post dan tabungan tulisan; sementara saya-nya hilang. Nggak balas komentar, nggak blogwalking juga.

Sekarang, InsyaAllah aktivitas sudah menormal seiring dengan deadline yang terlewati. Jadi saya mau mulai blogwalking lagi pelan-pelan. Sebelumnya, saya mau cerita dulu....

Lately


Lagi ada acara di kantor. Karena semua acara dilakukan secara online, otomatis harus banyak melakukan perekaman video. Sejak dua minggu terakhir, semua penghuni kantor bergantian merekam entah untuk ikut lomba atau lainnya. 

Video harus direkam dengan mengikuti protokol kesehatan. Alhasil syuting yang biasanya bisa sekali jadi, harus dikalikan dengan jumlah orang. Kalau ada sepuluh orang, ya sepuluh kali merekam, lalu digabungkan secara digital.

Nah, editor video cuma sebiji alias saya, itu pun nggak mampu-mampu amat, jadilah saya lenyap dulu ke dunia lain, alias dunia render. Ha ha...

Selain itu, saya juga tetap harus mendatangi rumah sakit untuk keperluan terapi. Kalau terapi kan harus datang subuh dan pulang malam ya. Otomatis saat sampai rumah seringnya sudah kecapekan, doping obat langsung teler.

(Trus datang-datang curhat).

Challenge Oneself

lagi syuting trus grogi gitu deh...

Biasanya, kalau tempat kerja saya ultah, acaranya kayak tujuh belasan. Ada lomba tarik tambang, bakiak, senam aerobik, poco-poco, maraton, estafet, dan sebagainya. Lalu ada panggung hiburan lengkap dengan doorprize. Paling ditunggu biasanya motor.

Tapi saya nggak pernah menang, Tupperware aja ga pernah menang :(

Karena pandemi, lomba pun berubah. Semua diadakan secara online. Kategori lomba pun berubah mulai dari lomba foto, lomba poco-poco virtual, lomba menyanyi, sampai stand up comedy.

Saya orangnya nggak begitu berani tampil di tempat umum (banyak orang yang nggak percaya... tapi beneran kok...). Selalu grogi dan panikan, apalagi kalau harus tampil di depan orang banyak. Public speaking saya intinya masih perlu banyak peningkatan.

Sampai ada kabar lomba yang sekarang formatnya benar-benar berubah, mulai dari jenis lomba sampai penyampaiannya. Awalnya saya mager, trus ada iming-iming dari unit kerja saya nih: Kalau daftar paling awal, nanti dapat hadiah hiburan.

Gosip beredar kalau yang submit duluan akan dapat hadiah hiburan voucher belanja. Wah, kalau itu judulnya saya langsung niat dong. Melihat dari deretan lomba, akhirnya saya memilih lomba menyanyi kelompok dengan alasan 1. Nggak usah mikir, 2. Bisa langsung diuji coba aja.

Ternyata tentu saja kenyataannya nggak gitu Ferguso. Hobi karaokean bukan berarti suara bisa lancar kayak Raisa (ya iyalah)

Butuh latihan berkali-kali sampai dapat suara yang pas, itu pun mepet karena memang kami bukan penyanyi (wakakak). Gitarisnya memang teman kantor yang anak band. Dia-lah yang benar-benar membantu; karena bisa langsung menyesuaikan dengan suara saya dan teman saya yang kelas kamar mandi.

Teman kantor lainnya menawarkan untuk bikin video klip sederhana sekalian, karena tanggung. Ini pengalaman baru buat saya. Baik merekam suara menyanyi secara penuh maupun bikin video klip. Awalnya grogi, tapi asyik juga. 

Hadiah hiburannya apa? Bukan voucher ternyata, tapi payung. Meskipun begitu, ternyata asyik juga bikin proyek begini; terlepas dari suara yang pas-pasan, saya suka hasil akhirnya. 

Hasilnya memang bukan hasil profesional. Saya harus bolak-balik lihat tutorial terutama waktu membetulkan kualitas audio dan berbagai teknik lainnya. Tapi saya banyak dapat pengalaman, belajar hal baru, dan berhasil mengalahkan rasa malu.

Malah teman saya ngajakin nanti bikin lagi.

Kalau berminat lihat dan bisa menolerir suara non-penyanyi, silakan tonton di sini ya HAHAHAHA....


Things from the Mailroom

Kemarin-kemarin cerita di sini kalau kondisi badan saya lagi nggak baik. Terapi masih berjalan, dan kondisinya terus improving, saya senang :D

Hanya saja karena harus duduk lama demi revisi dan render video, sepertinya tulang ekor saya mulai berulah lagi. Semoga terapi minggu depan bisa membantu.

Dua minggu kemarin pula, saya sempat dapat dua kiriman dari Mbak Eno. Satunya adalah makanan yang dikirimkan lewat tokopedia. Sei Sapi Zensei yang baru-baru ini emang launching di Bandung. Dikemas frozen, jadi tinggal memanaskan saja.


Karena Abang suka banget Sei, jadinya Abang yang berasa ketiban rezeki banget. Dimakan berdua jadinya nggak habis-habis; apalagi kalau pakai porsi rumahan yang sedikit-sedikit. It stretched up to one week.... alias... sampai hari ini juga masih ada buat sekali makan lagi. Alhamdulillah. Bahagia sekali.

Ada cerita kocak soal Sei ini: baru sehari sebelumnya, saya dan Abang mendengar founder makanan ini ngomong di radio saat perjalanan ke kantor. Saya jadi penasaran, kira-kira rasanya gimana. Kalau ada kesempatan mau beli, gitu.

Lha, besoknya Mbak Eno mengabarkan ada kiriman buat saya, dan pas dicek ternyata si Sei ini. Wah, nyambung banget sampai terharu. Ini yang disebut doa terkabul lewat tangan orang lain, ya 🀣

Ekstranya, saya nggak nyangka saya menang giveaway untuk buku jurnal Addicted to Cafe! Surprise banget pas baca pengumuman pemenang di blog Mbak Eno. Paketnya datang beberapa hari kemudian, tapi saya lupa konfirmasi sampe beberapa hari kemudian hix hix,,, dasar si Mega.


Uhuhuhu, pas datang bukunya ternyata memang gemes. Ingin cepat mengisi tapi sekarang masih membatasi keluar rumah dengan situasi yang ada. Saya pengen segera bisa main keluar lagi dan mengisi jurnal ini. Ukurannya kecil, jadi bisa banget nyelip di Kindle yang memang saya bawa kemana-mana.

Kalau sekarang, mungkin home cafe aja dulu ya, alias dapur sendiri πŸ˜‚

Postcrossing

Proyek postcrossing ini adalah prakarsa Lia dan Mas Rivai. Teman-teman yang baca blog ini mungkin ada yang ikutan proyek ini juga, karena pesertanya banyak (dan yang baca blog saya pasti baca blog Lia)! Wah, saya nggak nyangka bisa sebanyak itu.

Bulan Maret ini adalah batas waktu untuk pengiriman postcard-nya. Sudah ada yang mengirimkan kartunya lho. Saya belum menentukan mau bikin atau beli postcard karena saya labil. Masih ada waktu sih, semoga minggu depan sudah terkirim. Paling tidak sebagian.

Kemarin, saya sudah mengecek ke agen pos di area kantor dan bertanya apakah mereka bisa mengirimkan kartu pos. Ternyata bisa, tapi layanannya sedang tutup sampai bulan depan. Yah, kalau itu sama saja bohong, dong.

Jadinya, tugas saya selain menyiapkan kartu pos adalah mencari kantor pos mana yang siap mengirimkan kartu pos. Yang dekat-dekat rumah saja, atau paling tidak rumah sakit tempat saya terapi, supaya bisa sekali jalan.

Semoga di laporan minggu depan, sudah ada progres yang lebih berarti tentang kartu pos ini!

Next Week, Next Week 

Nah, itulah update terakhir dari kehidupan saya, karena di blog kan isinya sedang bukan tulisan yang time-sensitive. Siapa tahu ada yang penasaran dan kangen (ihiy). Sekarang, sudah laporan di blog ini rasanya sedikit lega. Saya mau keliling blog dulu ya sekarang, sampai jumpa lagi di update sporadis berikutnya...

Sampai ketemu minggu depan,
Mega