from unsplash; Anastasia Ostapo / Valeria Miller

Dibandingkan saya waktu masih sekolah, anak sekolah sekarang sudah lebih fasih soal perawatan wajah dan tubuh. Zaman dulu paling banter saya kenal sabun pembersih dan pelembap. Mengenal itu saja sudah berasa “dandan” banget.

Sekarang, anak SMP saja sudah hafal apa itu 10-step-skincare.

(Betewe, berasaaa banget deh nulis “anak sekolah sekarang” di sini. Ternyata emang saya udah ngga muda-muda amat hahahaha)

Berbeda dengan dulu, sekarang pilihan brand skincare sudah jauh lebih banyak. Kita bisa memilih merek dengan bahan yang sesuai dengan kulit kita.

Edukasi tentang bahan-bahan skincare juga mudah didapat. Kalau dulu kita hanya mengandalkan “apa yang dipakai ibu” atau “apa yang baru dibeli teman” sekarang sejuta informasi di internet bisa didapat dengan mudah.

Mulai dari review di blog, video, info produk di instagram, sampai deretan ingredients yang tercantum di skincarisma. Kalau begini, harusnya merawat kulit menuju #2021glowing lebih mudah, dong, ya?

Harusnya. Karena tidak juga.

Nyatanya, (saya) malah jadi pusing. Beruntunglah orang-orang yang bisa menggunakan banyak produk dalam satu waktu dan bisa mengakomodasi perubahan skincare-nya seiring waktu. Soalnya, saya nggak bisa sama sekali. Ha ha ha!

Skincare Overload: Ketika Perawatan Kulit Malah Jadi Rumit

Setiap hari rasanya selalu ada produk baru. Selalu ada cara baru mencuci muka, selalu ada cara baru untuk merawat.

Rasanya setiap waktu selalu ada metode yang ternyata harus diperbaiki, ternyata ada masalah kulit yang selama ini kita tak pedulikan (oh my, harus nambah produk baru lagi!), lalu ada masker atau serum baru untuk menangkal “problem” yang baru muncul tersebut.

Belum lagi kalau sudah bicara soal perawatan khusus dan gadget. Dulu jade roller, lalu gold mask, lalu facial ini-itu, berlanjut ke suntik itu dan anu.

(Saya nggak sampai situ sih… budget-nya gak nyampe. Hihi)

Apakah setelah itu kulit jadi lebih baik? Kalau beruntung sih iya.

Masalahnya, kulit yang lebih baik pun tidak selalu membuat saya bertahan dengan satu produk. Seringkali ada rasa penasaran dalam rangka mencari “produk yang terbaik”.

Padahal, banyaknya produk yang digunakan tidak menjamin kulit akan lebih baik. Bisa saja kulit kita justru bingung dengan zat yang digunakan, atau malah iritasi karena terlalu banyak yang dipakai.

Selain itu, saya jadi merasa rutinitas skincare ini jadi menyita perhatian saya lebih dari yang seharusnya.

Baca review tidak cukup satu, membandingkan tidak cukup dua produk juga. Pokoknya harus riset set set, dan akhirnya tetap mencoba minimal dua.

Kalau memang pekerjaan saya memang ada di ranah review dan research skincare, ya nggak masalah. Tapi saya hanya pengguna, dan seharusnya skincare itu efisien: bermanfaat, tapi tidak menghabiskan waktu dan biaya.

Siapa yang merasa “terjebak” dalam lingkaran mencari produk terbaik? Saya yakin, tidak hanya saya yang begini.

from byrdie.

Melakukan Mindful Skincare Approach

Gaya hidup minimalis sedang ngetren beberapa tahun belakangan, namun ini tidak selalu harus diaplikasikan kepada seluruh aspek kehidupan. Nggak masalah memiliki koleksi yang banyak kalau memang alasannya kuat dan kamu nggak terganggu dengan itu.

Misal, seorang yang memang mencintai mode, wajar saja kalau koleksi pakaiannya banyak. Toh dia memang mencintai pakaian dan itu sudah jadi bagian kepribadiannya.

Kalau mendadak harus ditarik semua dan diganti jadi baju hitam-putih atau kaos yang sama a la Steve Jobs dan Mark Zuckerberg, yang ada malah stres.

Hal yang sama berlaku juga untuk perawatan kulit. Mungkin ada yang memang suka menghabiskan waktu untuk merawat kulit, karena faktor therapeutic dan hobi.

Ada yang menganggap merawat kulit adalah bagian dari quality time, ritual spesial yang tidak masalah dilakukan berlama-lama.

Tapi kalau saya, lebih banyak malasnya (ha ha). Sebelumnya saya pernah mencoba 10-layer Korean skincare yang femes itu, tapi bukannya jadi rajin, malah saya malas.

Kalau ada yang nyasar ke artikel ini entah dari google atau dari mana, mungkin pernah memikirkan beberapa hal di bawah:

  1. Apakah selalu merasa kehabisan waktu ketika melakukan rutinitas skincare?
  2. Apakah rutinitas yang ada seringkali terlewat karena malas, namun tidak ingin mengubahnya karena merasa itu yang benar?
  3. Apakah sudah mencoba berbagai produk, tapi sepertinya kondisi kulit tidak juga membaik atau meningkat?
  4. Apakah merasa waktu habis untuk mencari “produk yang sempurna”?
  5. Apakah keinginan untuk “mencoba produk baru” mulai dirasa merepotkan?

Kalau memang dirasa sudah overwhelmed, mungkin sudah saatnya menarik rem, menekan tombol reset, dan memikirkan kembali: apa yang kulit butuhkan?

Mindful skincare bagi saya adalah memikirkan sebaik-baiknya apa yang dibutuhkan oleh kulit dan tidak “boros”. Boros dalam hal pikiran, boros dalam hal finansialnya juga sebagai bonus.

Mindful juga bisa berarti memikirkan benar-benar produk yang akan digunakan: apakah berasal dari perusahaan yang etikanya baik dan berbahan dasar baik; membayar pekerjanya dengan layak, dan sebagainya.

Saat ini fokus saya ada pada ritual yang dilakukan setiap harinya, beserta produk yang dipakai.

Saya memang tidak pernah punya perlengkapan skincare yang memenuhi lemari, tapi perlu diakui, saya juga mudah tergoda review ini-itu dan mencoba hal baru. Tidak sedikit skincare yang akhirnya saya buang karena sudah kadaluarsa.

Mindful skincare bagi saya adalah memikirkan sebaik-baiknya apa yang dibutuhkan oleh kulit dan tidak “boros”.

Karena hal ini juga, saya jadi menahan diri ketika hendak membeli produk yang “agak mahal”. Takut tidak terpakai karena masih banyak produk lain. Jadinya tidak bisa maksimal, kan.

Setelah berpikir dan kena tegur adik serta suami (hahaha), sebenarnya perawatan yang saya butuhkan tidak ribet-ribet amat. Yang diperlukan saya adalah konsistensi serta tahan godaan dari mencoba produk baru. πŸ˜…

Selain itu, saya nggak punya waktu banyak untuk mengaplikasikan seabrek perawatan khusus setiap harinya. 10-layer Korean Skincare buat saya sama dengan membuang waktu kebanyakan.

Mending mengerjakan hal lain: seperti goleran atau peluk suami. Eh, lho, salah ya?

unsplash; priscilla du prez


Sempurna Itu Tidak Ada…

Termasuk dalam hal produk skincare. Karena sempurna itu hanya ada di lagunya Andra and The Backbone.

Tidak ada produk yang bisa menyingkirkan semua masalah kulit, dan belum tentu masalah kulit berasal dari produk yang dipakai. Lagipula, efek pemakaian skincare baru terasa setelah 2-3 bulan pemakaian.

Ini berarti, idealnya tidak mengambil kesimpulan saat produk baru dipakai satu bulan apalagi seminggu. Ini pengecualian untuk reaksi alergi, yang biasanya muncul 2-3 hari setelah pemakaian.

“Tidak menghasilkan efek signifikan” bukan berarti tidak cocok. Gantilah produk saat sudah habis, agar tidak mubazir.

Kembali Pada Fokus Merawat Kulit, dan Bukan Mencoba

Ketika mulai merawat kulit dengan “serius”, kita dihadapkan dengan berbagai pilihan. Berbagai zat unggulan, metode, yang sepertinya semua harus dicoba agar optimal.

Lambat laun fokus pun berubah: bukan untuk memberi makan kulit, namun untuk mencoba produk. Setiap keluhan ditangani dengan produk baru tanpa menyadari penyebab dari keluhan tentang kulit tersebut.

Setiap kali hendak mencoba produk baru karena rekomendasi atau iklan, baiknya tanya kepada diri sendiri: Apakah benar-benar perlu mencoba produk tersebut? Mengapa harus mencoba, dan apakah harus sekarang?

Apakah yakin akan konsisten dalam memakainya, atau hanya coba-coba saja?

Tidak perlu takut ketinggalan kereta. Karena kulit hanya perlu dirawat, dan produk baru tidak selalu akan jadi jawabannya. Kulit memang tidak bisa bicara, tapi bisa “didengar” kok. Pantau kondisinya setiap hari dan gunakan produk sesuai kondisi kulit saat itu.

Mengurangi Produk yang Tidak Perlu

Efek dari sering coba-coba itu, tentu saja kadang berakhir dengan kebanyakan produk. Produk yang tidak kita pakai lagi, namun terlalu sayang untuk membuang karena merasa harganya mahal, atau alasan “suatu saat nanti pasti berguna”.

Itu kasus saya, soalnya. Terakhir saya mengecek meja rias adalah sewaktu saya akan pindah ke tempat tinggal baru, dan saya membuang beberapa produk yang sudah tidak terpakai. Produk yang masih bagus saya berikan juga pada adik kalau dia menggunakan.

Dengan mengurangi produk yang tidak perlu, kita juga mengosongkan pikiran dari kebingungan, “harus pakai yang mana?”. Lebih hemat waktu, lebih hemat tempat, dan dalam jangka panjang, lebih  hemat biaya juga.

Plus mengurangi tatapan tajam suami kalau lagi-lagi produk di atas rak kok nambah. Hehehehe.

Mengenalkan Produk Satu per Satu, Tidak Sekaligus

Setia sekali saya menjabarkan motto tahun ini: One thing at a time. (Masih awal tahun sih, jadi masih fresh). Statement ini memang bisa diaplikasikan ke mana saja.

Pada dasarnya, mengenalkan produk pada kulit memang nggak boleh sekaligus. Namun seringkali kita lupa dengan berbagai alasan: merasa bahwa akan aman-aman saja, ‘nanggung’ kalau tidak pakai satu paket sekaligus, atau takut kelupaan.

Tanpa menyadari kalau kulit bisa kaget dan efeknya bisa jadi tidak bisa kita jelaskan apa, karena mengenalkan produk sekaligus. Bisa saja efeknya baru terlihat beberapa waktu kemudian, saat kita sudah berganti produk lain, sehingga tidak bisa benar-benar menentukan siapa tersangkanya.

Karena itu, selalu ingat untuk mengenalkan produk baru satu per satu saja, dan ganti hanya bila memberikan reaksi alergi/masalah serius pada kulit. Biarkan kulit menyerap nutrisi dari produk baru sambil menyesuaikan diri. Namanya juga pedekate, butuh penyesuaian sana-sini. πŸ˜ƒ

Evaluasi: Apakah rutinitas yang sekarang sudah cukup?

Setelah mengurangi produk, fokus pada perawatan kulit yang ada, benar-benar memperhatikan kebutuhan kulit, tetap harus dicek kembali setiap enam bulan sampai satu tahun sekali.

Atau ketika ada perubahan cuaca yang ekstrem, yang biasanya memberi pengaruh signifikan pada kondisi kulit.Seperti sekarang misalnya, saat sering hujan berangin yang membuat kulit saya kekeringan--saya sepertinya perlu pelembap yang lebih kaya.

Cek kembali produk-produk yang dipakai. Apakah rutinitas yang sekarang sudah oke, atau perlu diganti? Ada yang perlu ditambah atau malah dikurangi lagi?

wit and delight

Cintai Wajah, Kulit, dan Tubuh Secara Keseluruhan

Nenek saya termasuk orang yang berkomentar “Dulu Yangti (sebutannya) pakai krim Kelly saja cukup, sudah mulus kok… nggak usah banyak-banyak produk, sampai mahal-mahal.”

Hehehe, zaman ini memang berbeda. Kita memang nggak bisa ekstrem mengurangi sampai cuma pakai krim satu buah, karena kondisi udara pun sudah tidak seperti dulu..

Makanan yang ada, cuaca, serta perkembangan teknologi juga membuat kita tidak bisa juga membiarkan kulit begitu saja. Mungkin efeknya belum kita rasakan sekarang, tapi akan terasa sekali saat sudah berumur nanti.

Tentu saja, ada situasi yang memang tak bisa dibetulkan hanya dengan skincare. Skincare bukan hanya masalah produk yang diaplikasikan pada kulit, namun juga perawatan dari dalam.

Ada pola makan yang perlu diperbaiki, kebutuhan minum yang harus tercukupi, serta kecukupan tidur dan manajemen stres. Semuanya berpengaruh pada kesehatan kulit, dan tentu saja, tubuh.

Ketika sudah sampai pada kondisi yang memang tidak bisa ditanggulangi sendiri, jangan ragu untuk menghubungi yang ahli. Karena ada situasi yang memang bukan untuk ditangani oleh produk skincare retail saja, tapi juga Dokter ahli.

Terlepas dari semua itu, kalaupun segala cara sudah dilakukan tapi kulit tidak juga #glowing2021, mungkin saatnya menurunkan ekspektasi. Mengharapkan hasil cepat dan sempurna sudah pasti tidak bisa.

Karena yang paling penting adalah kita sudah melakukan yang terbaik untuk kulit serta diri sendiri--merawat semampu kita dan mencintai kesempurnaannya yang tidak sempurna.

Well, time to re-evaluate my skincare routine this year….

Selamat glowing,
Mega