Hore, ada postingan di luar jadwal lagi... yang berarti ini dibikin dadakan. He he. Terima kasih kepada Mbak Mbul alias Gustyanita Pratiwi yang memberikan saya semangat buat bikin post kali ini.
Ngomong-ngomong, long weekend ini teman-teman ngapain aja? Selamat berkumpul dengan keluarga ya, bila yang memungkinkan untuk berkumpul. Memang akhir minggu ini adalah liburan panjang yang juga bertepatan dengan tahun baru, tapi pasti banyak di antara kita yang tidak bisa berkumpul dengan keluarga karena alasan keamanan dan lain-lain.

Meskipun situasinya seperti ini, semoga keadaan segera membaik dan bisa membuat kita berkumpul kembali ya. Kalau long weekend ini saya jelas, goler-goler aja di rumah... jadwalnya cuma goleran, nyeterika baju, bersih-bersih sedikit kalau ingat.

Anyway. Mbak Mbul bertanya di postingan saya sebelumnya: Kencan di Rumah, tentang satu hal yang membuat saya teringat masa-masa muda eh remaja maksudnya. Pertanyaannya sederhana saja: asal nama blog ini dari mana?

tiny dan dolce ini ada artinya kah? jadi penasaran sama nama blognya kenapa dipakaikan tiny dan dolce hihi....

Jawabannya adalah karena semangat masa muda. (hah?)

Blog ini dibuat tahun 2014. Masih bau-bau fresh graduate, dan saya merasa perlu blog baru sebagai "penanda" berpindahnya fase hidup. Sebelumnya, semasa kuliah saya punya satu blog dengan url nama; lalu ketika SMA ada blog berbeda juga. Membuat blog baru sepertinya jadi "kebiasaan" saya kalau melewati fase pertumbuhan saya waktu itu.

Saya sadar betul nama (asli) saya nggak bisa dipakai branding, alias pasaran. Malah sekilas bisa kayak nama Yayasan atau Toko Besi. Jadi saya nggak mau lagi punya blog dengan url nama.

Nah, ketika itu juga, saya lagi seneng-senengnya baca lifestyle blog/fashion blog luar. Pada masanya, adalah lazim memberi judul blog random dari dua kata/frase.

Beberapa judul yang mungkin pernah ditemui juga oleh teman-teman misalnya: A Pair and a Spare, Cupcakes and Cashmere, Nubby Twiglet, Stripes and Sequins, Gal Meets Glam, Wit and Delight, Hot Chocolate and Mint (Diana Rikasari)...

Beberapa di antara blog tersebut masih diperbaharui hingga hari ini. Ada juga yang berganti nama.

Dari situlah saya keidean untuk menggabungkan dua kata yang terdengar menyenangkan. Tapi saya nggak pakai kata penghubung. Pakai tanda (+) saja biar keren. (Pikir saya).

Tiny+Dolce?

Tiny artinya kecil. Dolce diambil dari frase La Dolce Vita—istilah bahasa Italia yang artinya "hidup yang indah". Namun kalau diambil "dolce"-nya saja, sebenarnya artinya adalah "manis".

Arti kacau dari dua frase tersebut (karena nggak ada nyambung-nyambung grammar-nya) adalah: "hal kecil yang manis".

bogdan dada; annie spratt; raunaq patel; gabriella clare marino // unsplash.com

Sebelum membuat blog ini, saya punya visi ingin jadi seperti apa blog saya. Ingin tentang apa. Tentu saja, didasari semangat remaja '14, dan mahasiswi sekolah seni nan pretensius, saya membayangkan blog kecil yang unyu dan stylish lengkap dengan vibe nyeni nan elegan, gitu lho.

Saya selalu suka bayangan kota-kota kecil Eropa, dan ingin punya hidup yang "keren".

Sesuatu kayak video ini lah.... (meskipun ini kota besar ya, bukan kota kecil).

Isinya sekarang sih... nggak sesuai sama bayangan, ya. 🙄

Daripada kehidupan indah seperti kota-kota kecil Perancis dan Italia, bahasan blog ini tentu saja lebih mendekati kehidupan pekerja urban yang tetap pengen nggaya. Ha-ha-ha.

Enam tahun setelah blog ini dibuat, saya sudah jadi orang yang lebih realis sekarang. Pun nggak berminat bikin blog baru lagi, sudah cukuplah satu saja. Apa itu artinya saya sudah berhenti "tumbuh"? Atau sudah menerima diri sendiri yang berubah-ubah labilnya? Bisa keduanya.

Saya sudah paham saya nggak berbakat DIY (males kalau harus rutin), nggak berbakat juga dalam fashion (masih malu mejeng, entahlah ke depannya. Ironisnya ini datang dari orang yang dulu belajar mata kuliah fashion). 

Buat share-share produk gemes dalam jumlah banyak juga enggak, karena hidup saya cenderung ke arah penghematan. Karena itu di sini tidak akan ada shopping haul. Tapi kalau shopping guide, kadang-kadang bakal ada. ðŸ¤£

Tapiii, The phrase is still my blog's vision. Intinya menikmati dan mensyukuri segala bagian dari kehidupan, sampai yang terkecil-kecilnya. Soal stylish mungkin nanti dulu. "Hal kecil" di sini maknanya jadi "attainable".

Attainable fulfilled living.

Itu adalah slogan jangka panjang yang sekarang dibawa ini blog. Mungkin belum terwujud atau belum terlihat karena artikelnya masih sedikit, tapi ke depannya semoga semakin jelas saja ya.

Atau bisa juga isi blog ini akan berkembang dan slogannya tidak akan sama lagi. Siapa yang tahu? Tapi yang jelas visi dari Tinydolce ini nggak akan hilang. Akan tetap mengapresiasi hal yang "kecil-kecil".

Menikmati dan mensyukuri kehidupan dengan cara yang tidak harus mahal. Tapi tetap menyenangkan, karena selalu ada bagian yang indah untuk ditemukan, iya kan? Amin.

Karena pertanyaan itu, saya jadi iseng bikin playlist apa yang dulu kebayang ketika membuat nama blog ini. Banyak lagu baru di sini, yang saya temukan seiring dengan discovery Spotify.

Ini dia....

------Listen: Tiny+Dolce on Spotify------

Sebagaimana label "mahasiswi sekolah seni nan pretensius", tentu saja lagunya banyak Perancis dan Italia, yang dulu saya dengarkan karena merasa 'harus suka'. (HA HA HA....)

Untungnya: Iya, saya jadi suka betulan. Saya jadi suka Francoise Hardy. Sementara Erik Satie adalah komposer yang memang saya sukai waktu kena demam musik klasik gegara manga (ngakak lagi di sini, but it's a great discovery).

It's nice to listen to, dan saya jadi ingin berbagi sekalian.

Supaya postingan ini nggak kosong-kosong amat sih intinya, soalnya isinya cuma rambling. Tapi saya senang bisa ada bahan cuap-cuap random untuk akhir pekan. Terima kasih Mbak Embul. Hihihi...

Ngomong-ngomong, kalau bertanya-tanya kenapa ada dua lagu Estate: Yang satu dinyanyikan Erlend Øye. Hukumya wajib.

Take a listen and enjoy!

Kalau menurut kalian sendiri, blog ini isinya tentang apa?
Mega