On Being 27, and almost 28

by - September 19, 2019





Sudah setahun vakum dari blog ini, dan baru sekarang menulis lagi. Ada alasan khusus? Tidak ada. Hanya baru meluangkan waktu sekarang, dan bisa mempost tulisan lama. Ada banyak tulisan kecil-kecil. Yang paling panjang adalah tulisan ini; sebuah review yang ditulis sejak awal tahun sewaktu usia saya menginjak dua puluh tujuh. Karena sekarang usia saya sudah akan bertambah satu angka lagi, waktunya saya melengkapi tulisan ini.

Kenapa? Karena ini semacam review penting untuk sebuah milestone, haha. This is more a personal contemplative essay rather than tips seperti tulisan-tulisan yang saya buat sebelumnya, tapi nggak masalah karena saya merasa lebih bebas. Mumpung ini blog pribadi, bukan majalah dengan berbagai aturan dan keharusan, ya kan? Sering saya membatasi diri menulis karena merasa isinya 'tidak layak' , tetapi kalau begitu 'kan, jadinya tidak menulis-menulis juga.

So here’s twenty seven realizations about being twenty-seven…. And nine months. Sebentar lagi dua puluh delapan, tapi nggak apa-apa, masih ada kesempatan lain untuk menuliskan dua puluh delapan lainnya. Enjoy!

1. A bit older than 25, but a bit younger than 30
Karena 27 itu ada di pertengahan. Jadi, rasanya: tidak terlalu tua, tapi juga… tidak terlalu muda? Am I supposed to be an adult now? Sekarang saya sudah nggak kesal lagi kalau kebetulan dipanggil ‘Ibu’, tapi juga berpikir, sepertinya belum waktunya.

2. You're physically isn't that fit anymore
Saya pikir saya akan kuat mengadopsi jam tidur 1 pagi selamanya, namun ternyata tidak. Dibawa lembur beberapa hari, tubuh langsung ambruk dan butuh istirahat. Tubuh lebih mudah memberikan alarm kalau memang bekerja berlebihan. Tetapi, hal ini juga membuat saya sadar kalau tubuh hanya satu. Mulai memikirkan kemungkinan jangka panjang dari hal-hal yang saya lakukan sekarang, juga akibat makanan yang dimasukkan ke dalam tubuh.

3. But somehow, you have made peace with your appearance
Kalau memperhatikan wajah dan tubuh, akan selalu ada rasa kekurangan; kurang kurus, kurang bersih, kurang tinggi, dan kurang-kurang lainnya. Right. Nggak cantik-cantik amat, but I love how I am looking in the mirror. I learn to love myself in front of camera and how to love my own smile.

4. ....while still looking around for new diet methods.
Ya memang namanya juga manusia ya. Ngga sih belum sampai tahap diet edan-edanan sampai nggak makan berhari-hari. Atau coba suplemen aneh-aneh. Tapi kadang penasaran juga kalau kali-kali ada yang bisa bikin saya turun berat badan tanpa berhenti ngemil gitu kan.

(jawabannya: nggak ada.)



5. Sport is not a luxury! It's a necessity!
Pertama-tama, kenapa saya menulis olahraga adalah luxury? Karena saya selalu menemukan alasan untuk nggak melakukan. Kalau nggak ada program olahraga mingguan di kantor, saya bisa lupa olahraga. Padahal kalau mau sehat, ya harus olahraga. Terutama karena pekerjaan saya sedentary, yang lebih sering menyuruh saya duduk.

Jadi harus lebih sering ingat: semakin sering saya alpa olahraga, semakin dekat saya sama penyakit jantung. Dan encok. Dan asam urat. Dan-dan-dan-dan yang lainnya.

6. And junk food, too. You know why it's called 'junk food' now.
Long story short, sekarang saya cuma makan seblak sebulan sekali. Mau bangga pokoknya. Segitu saja sudah merupakan keberhasilan karena sebelumnya saya selalu makan nggak pakai mikir. Lalu, saya yang dulunya nggak suka makan sayur ini sekarang lebih sering nyari sayur. Tuhan, apakah akhirnya saya tumbuh?

7. You're looking at your younger days' dreams fondly
Karena mimpi yang kita miliki saat kecil tiba-tiba sekarang menjadi terlalu besar untuk dicapai. Semacam sekolah di Italia atau menikah sama pangeran Wales. (Pernah betulan kepikiran mau nikah sama Pangeran William waktu SD.) Ada beberapa mimpi yang sampai tahun kedua kuliah pun, saya pikir, bisa saya capai. Tetapi ternyata sekarang, rasanya itu seperti impian yang aneh saja. Entah karena fokus saya sekarang sudah berubah, entah karena saya tahu saya tidak begitu lagi menginginkan hal itu, atau karena tahu batasan dari kemampuan diri.

8. While maybe, you're feeling a bit sad
Sepuluh tahun sebelum dua puluh tujuh, saya pernah jadi tujuh belas dengan segala mimpi yang sekarang akan saya bilang terlalu muluk -- mungkin saya yang berusia tujuh belas akan sedih mendengarnya. Walaupun saya yang berusia dua puluh tujuh juga tidak terlalu sedih dengan kenyataan itu. I have moved on, I made another dreams, and I'm pretty content about it.

9. But still wants to do it somehow (with modification)!
Toh, masih bisa diwujudkan. Masih jauh waktunya, kalau diberi usia. Mungkin nggak akan sama dengan apa yang saya cita-citakan pada awalnya, tetapi semangatnya masih ada. Mungkin terbagi dengan fokus yang lainnya, tapi saya kira, saya masih bisa mencapainya. Lagipula, kalau terlalu puas dengan hidup, jadinya nggak maju, dong.

Mundur sepuluh tahun dari usia tujuh belas: usia saya tujuh dan saya menggunting-guntingi kertas, untuk kemudian saya tulisi dengan artikel buatan sendiri. Come to think of it, I kind of realizing that dream now with my own blog.

10. Learning that when you have taken care of your bills, there are another bills.
Managing bills is hard, boy, that’s real hard. Meskipun saya pertama kali mengatur keuangan rumah tangga sejak SMA, tetapi berbeda ketika sudah punya uang sendiri dan begitu banyak kemauan kebutuhan. Lalu, karena semakin banyak hal yang harus diatur, setiap bulannya malah makin bertambah. Sewaktu pertama kali kerja, saya pikir semua beres -- semua terbayar! Tapi makin ke sini, ternyata ada banyak hal yang tidak saya tahu dan perlahan saya ambil alih, sehingga ujungnya jadi, kok makin banyak ya 😂

Nonetheless, I think I survived that and I will survive the next ones too. I’m not surviving these eleven years for no reason at all, right?



11. Your wishlist keep growing, but it gets boring (for younger you)
Masih ada wishlist ke Italia dan ke Yunani, tapi iya, wishlist itu sudah saya tambahkan juga dengan yang lain: Clothes steamer, food processor, slow cooker, pokoknya hal-hal yang saya pikir nggak penting waktu dulu. Atau saya pikir nggak akan saya mau banget sampai ngebet. Macam rumah yang harganya makin melangit itu tuh. (hey, seventeen-years-old me is cringing really hard right now.)
Yah, mungkin ini yang namanya makin tua dan makin realistis. Nggak nolak sih kalau mendadak dapat tiket ke Eropa.

12. Kind of getting along with your parents after years of shouting match.
I won’t understand him at all, will I? Itu pikiran saya sewaktu awal-awal dua puluhan, di mana saya masih sering sekali bertengkar dengan ayah. Sekarang saya nggak bisa bilang saya benar-benar mengerti beliau, namun saya tahu untuk kapan mendengar dan bagaimana cara untuk menyampaikan pendapat tanpa harus berderai air mata. Because it’s not really necessary after all; you look at your parents’ figure and realizing he’s really that old now, dan perasaan untuk menentang itu toh hilang dan digantikan perasaan ‘nggak bisa, saya nggak akan pernah bisa membayar semua jasa beliau’.
Because you won’t. Ever. Maybe I still can’t hug him or saying sweet things since we’re still awkward as f**k, but I’ve grown to appreciate him sooo much.

13. Going through rifts between people you're supposed to be friends forever, and surviving it.
This was my major issue through 2018 - karena saya benci pertengkaran, atau perbedaan pendapat. Terutama mengenai orang-orang yang saya percayai; saya nggak akan pernah berpikir mereka bisa menyakiti saya, atau melakukan sesuatu yang membuat saya marah. Karena kita sendiri yang mengendalikan perasaan kita, ‘kan? Namun nyatanya saya sakit hati. Butuh waktu lama bagi saya untuk sadar kalau saya marah; butuh waktu lama juga bagi saya untuk mengizinkan diri sendiri marah. Padahal itu hal yang harus kita lakukan untuk dapat memaafkan.

A big lesson: it’s okay to be angry. Karena butuh waktu juga untuk mengolah perasaan. Berikan waktu pada pikiranmu untuk berproses.

14. Like other people, relatives and friends can drift away and that's okay.
Lanjutan dari tulisan di poin sebelumnya: karena saya tidak suka berselisih pendapat dengan orang, terutama orang-orang yang saya percaya -- saya jadi cenderung berpikir, kalau ada yang berubah, maka saya nggak bisa memaafkan diri saya sendiri. Kenyataannya hubungan itu selalu berproses; ada waktunya saya dekat dengan teman A, lalu ketika situasi berubah dan saya tidak bisa lagi dekat dengan teman A seperti dulu, itu tidak selalu merupakan hal yang buruk. Karena yah, I survived that - dan menemukan teman B, teman C, teman D. In the end, win-win solution, iya ‘kan?

15. Because different values doesn't mean you're right or wrong; it's just different.
Here’s the thing - saya tahu saya tidak suka perselisihan, tapi saya suka merasa benar. Sedikit banyak, ya ini yang membuat saya jadi sulit memaafkan dan sulit mengakui kalau saya marah. Karena saya pikir saya benar. Untuk hal yang konkret seperti hukum, atau hal faktual seperti apa nama ibu kota Burkina Faso, memang ada yang salah dan benar. Tetapi bagaimana dengan life value? Hal-hal yang dihargai oleh tiap manusia akan selalu berbeda, dan hal yang kita hargai tidak akan selalu dihargai dengan nilai yang sama oleh orang lain. Yang bisa kita lakukan adalah menerima kalau memang ada yang berbeda, dan mencari solusi tanpa harus menyalahkan value orang tersebut.

Anyway, ibu kota Burkina Faso: Ouagadougou.



16. You've gotten tired with quick dates, really. (But still want all that affection somehow, because you're that greedy).
...Karena stamina ada batasnya? Karena sudah waktunya lingkaran pertemanan ini mengecil? It's not like I'm not having fun meeting new people, tetapi mengenal orang baru dan membiasakan diri lagi memang butuh tenaga. Sewaktu usia lebih muda, (sekarang saya masih muda sih) saya masih semangat karena rasanya seperti membuka perspektif baru. Tetapi sekarang, rasanya ingin berhenti sebentar. Malas kenalan sama orang baru sih nggak, tapi saya butuh sesuatu yang lebih tenang, sepertinya.

17. But you know what you're really want for a partner.
2017 saya lewatkan dengan short-and-kind-of forgettable dates, tapi paling tidak saya punya teman jalan dan membantu saya bergerak dari sisa-sisa 'beban' di tahun sebelumnya. Ternyata tahun berikutnya saya capek, jadi saya fokus pada diri sendiri. Nyatanya, fokus pada diri sendiri malah menghasilkan hal-hal yang nggak saya sangka. Saya menikmati semuanya kok, dan belajar banyak juga.

18. You're thinking about settling down.
Karena tiba-tiba saja waktu saya buka home facebook setelah sekian lama, semua orang kayaknya punya anak. Menikah. (Oke, urutannya kebalik.) Terus jadi mikir, apa berarti saya juga harus ikut-ikutan? Lalu bagaimana, memangnya kenapa? Setelah lulus, timeline semua orang tampaknya benar-benar berbeda dan nggak ada patokan khusus. Pada akhirnya, ya, saya kembali ke prinsip utama: sambil jalan aja.

19. But what the heck is 'settling down'?
...Karena saya juga nggak bener-bener mengerti apa itu. Apa 'settling down' berarti diam? Enggak, kan. Apa itu berarti punya pekerjaan tetap sampai tua? Nggak juga, karena sekarang saya justru merasa perlu memberikan sedikit perubahan agar pekerjaan tidak begitu-begitu saja. Sepertinya yang namanya "settling down" tidak benar-benar ada. Yang ada hanyalah kenyamanan dan kesiapan kita untuk menerima perubahan-perubahan di sekeliling. Dan melatih sikap dont-give-a-f**k.

20. You look at everyone else and wondering if you did good enough
Apa seharusnya sekarang saya sudah keliling sepuluh negara? Dapat beasiswa kuliah di Eropa? Buka usaha sendiri dengan puluhan ribu followers di instagram? Kayaknya hidup saya biasa-biasa saja, tidak meninggalkan jejak apa-apa, hanya jadi karyawan biasa. Kadang rasa percaya diri bisa dihantam begitu cepat dengan hanya melihat sekeliling sebentar. Tetapi yang begitu malah jadi tidak produktif. Karena itu, kalau sudah mulai muncul pikiran itu, ada du ahal yang saya lakukan: melihat kebaikan dari diri sendiri, atau menjadikannya dasar motivasi untuk mencoba hal baru/meniatkan apa yang inign dilakukan.

21. You look behind and told yourself, you're good enough
Yang kemudian berlanjut kepada ini. Melihat diri sendiri dari perspektif positif, memberikan diri motivasi dan penghargaan, namun tetap realistis. Yes, life is shitty sometimes, tapi saya punya keluarga yang sungguh benar-benar menjadi pilar semangat hidup saya. Duit memang ngepas, tapi alhamdulillah sejauh ini saya tidak merepotkan orang lain secara finansial. Tidak mendapat penghargaan, tapi saya tahu adik dan orangtua sangat menghargai saya.

22. Because comparing yourself with others doesn't have any use anyway.
Malah bikin lesu. Hal ini juga bukan hal yang bisa benar-benar saya hindari. Ketika ini terjadi, rasanya powerless - bukannya jadi lebih produktif, saya malah jadi merasa: semua yang saya lakukan juga tidak akan berguna, jadi untuk apa? Begitu mudah untuk berlindung pada rutinitas dan tidak berbuat apa-apa. Namun pada akhirnya saya akan selalu kangen untuk menulis, berekspresi sesuai keinginan sendiri. Hanya saja, bisa jadi butuh waktu lama untuk bangkit. Saya tidak ingin kalah lagi dengan waktu.

23. You're finally feeling that you're an adult now
Dulu saya kira yang membuat kita dewasa adalah ketika sudah dapat uang sendiri dan membayar semua tagihan. Ternyata menjadi dewasa juga berarti menjadi realistis (sekaligus memendekkan mimpi), mematikan aspirasi dan inspirasi (sesuatu yang masih saya perangi agar tidak terus-menerus terjadi), dan kehilangan waktu untuk diri sendiri. Sedih sih, tapi nyatanya memang begitu. Begitu banyak obligasi, padahal sudah tidak sekolah lagi. Tahun berikutnya saya ingin lebih banyak memberikan waktu untuk lebih sedikit.



24. While simultaneously screaming that you're not
Masih manja. Masih gampang breakdown. Masih minder, sering berpikir diri sendiri nggak bisa apa-apa. Saya kira semakin tua perasaan itu akan menghilang, tapi nyatanya memang naik turun. Dan itu semua bagian dari karakter yang harus dihargai. Memang, masih banyak ilmu yang masih harus saya pelajari, masih banyak hal-hal yang nggak saya ketahui. Semakin dewasa, semakin sadar kalau diri ini begitu kecil dan nggak paham apa-apa.

25. You learn maybe that's what it is
Karena hidup adalah udunan.... eh, maksudnya, belajar. Terus belajar. Lepas dari bangku sekolah dan kuliah, masih ada sekolah abadi bernama kehidupan dengan segala warna-warninya. Tidak jelas siapa penilainya, tidak jelas nilai-nilai apa yang harus didapatkan karena semua orang berbeda-beda. Saat ini pun saya masih fokus mencari tahu apa yang ingin saya lakukan. Dengan berusaha konsisten.

26.Because there are still many years to come
Mudah-mudahan, kalau diberi umur panjang. Masih ada waktu untuk belajar dan katanya juga tidak ada kata terlambat, 'kan? Tapi kalau mau menunda, mau kapan lagi? Menulis blog ini juga jadi salah satunya, nih. Masih berusaha melatih konsistensi dan fokus. Kayaknya itu bakal terus jadi tema pribadi saya sepanjang hidup, deh. Semoga selalu ada peningkatan ya.

27. And promise yourself you will enjoy years ahead.
Karena selalu ada banyak hal yang bisa disyukuri. Selalu ada hal baik. Kalau lelah, bisa berhenti sebentar; dan alhamdulillah, saya masih banyak dikelilingi orang-orang baik. Selamat datang, dua puluh delapan, beberapa bulan lagi. Selamat datang lagi saya di dunia tulis-menulis blog. Dan selamat datang selalu untuk pernak-pernik kehidupan yang senantiasa akan selalu datang.... I'll try to do my best; menjalani semuanya dengan senang dan sabar, hahaha.

You May Also Like

0 comments

let's share, do tell! got a blog? I'll visit yours too :)