Featuring: Milk Makeup

by - March 29, 2016


Make up, alias kosmetik, buat saya merepotkan. Kita cuma punya waktu dua puluh empat jam setiap harinya, dan sepuluh jam lebih dihabiskan untuk bekerja serta commuting.

Saya waktu SMA yang cuma dandan di hari libur sih nggak masalah. Tapi kalau tiap hari? Buat saya lebih baik menyediakan waktu untuk yang lain saja deh. Bukannya nggak mau dandan, tapi itu lho masalahnya. Repot!

Despite those facts, I like make-up. Every girl has their own way to be pretty, and we choose make up as one way to get it. Lipstik pertama saya miliki waktu SMP, dan ketika SMA, saya mulai belajar memilih warna lipstik mana yang nggak akan bikin wajah saya kayak monster. Saya juga mulai mengoleksi decorative make up, and soon I have a little shelf full of beauty products.

Lewat setahun-dua tahun, saya bosan. Yang membekas dari kosmetik bagi saya adalah: it's expensive, a lot of stuff has to be done, and time consuming.

Plus, memakai makeup itu 'berat' formulanya, rasanya berlapis, dan kulit saya yang mudah berjerawat jadi semakin sensitif. Maka saya pun berhenti memakai kosmetik lengkap. Kulit sehat menjadi fokus utama, plus lipstik, dan selesai sudah.

Sewaktu melihat info tentang Milk Makeup, pikiran saya soal "make up itu repot" semacam sirna.


Milk Makeup dipelopori oleh Milk Studios, a creative hub - pusat kreatif New York dan Los Angeles. Hal-hal yang dilakukan mencakup tentang mode, fotografi, film, dan musik. Baru tahun ini mereka memilih Beauty Line sebagai perpanjangan usaha mereka.

For the starters, read Milk, their hip online platform. Makanya, nggak heran kalau Milk Makeup sangat terinspirasi oleh seni dan mode. Saya suka banget konsepnya. Gaya 90s yang diusung memang terasa agak cheesy buat saya, namun their simpleness caught me.

Milk Makeup mulai dari hal yang menurut saya masih jarang diperhatikan brand lokal - desain produk. Soal warna dan pigmentasi, kita punya brand lokal yang juara. Tetapi rata-rata packaging-nya masih begitu-begitu saja. Now, look at them!

Brand ini, di sisi lain, menekankan pada pengalaman. Make up itu cepat, ringkas, dan nggak merepotkan - sehingga kita bisa fokus mengerjakan hal yang lain. Desain perangkatnya dibuat agar mudah diaplikasikan: dengan jari, nggak perlu macam-macam pad dan aplikator.


Milk menekankan pada kesederhanaan dan efisiensi. Banyak produknya yang bisa dipakai multiguna. Mulai dari eye shadow, blush on, lipstik, sampai eyeliner dan lain-lain, bisa dipakai untuk keperluan ganda. Produk semacam lip + cheek stain sudah jelas fungsinya dua, tapi mereka juga memberikan alternatif penggunaan untuk produknya yang lain. Misalnya, matte quad yang juga bisa dipakai di bibir.

And their aesthetic is purely fun, of course. Salah satunya adalah lip marker, lipstik yang bentuknya seperti highlighter. Atau bentuk lipstik dan blush on mereka yang seperti pensil. Mudah dibawa dan menggunakannya juga ringkas.

Milk Makeup juga mengklaim bahwa produk mereka environmentally friendly and cruelty free. Hal itu jadi semacam bonus. Harganya memang cukup mahal sih buat kantong saya (starts from 20 US dollars), tapi kalau masuk ke Indonesia... rasanya jadi kepingin.

Sekarang sih, saya mau puas-puasin saja melihat produk-produknya. Minimalist and fun aesthetic are always the best ;)

You May Also Like

0 comments

let's share, do tell! got a blog? I'll visit yours too :)