A Lunch Date with Mom (That Would Have Been)

by - March 25, 2016


Keluarga kami menaruh foto-foto Ibu sebagai memento di seluruh rumah. My father is particularly fond of this. Beliau termasuk tidak suka memajang foto di dinding - but when Mom passed away he pinned those photos into walls like crazy.

Kadang saya dan adik saya akan mengobrol dan salah satu dari kami akan membuat sebuah remark tentang Ibu, sambil melirik ganas pada foto itu seakan-akan orangnya bisa dengar. Kadang saya misuh-misuh sambil separuh curhat sambil melihat foto yang jauh tergantung di dinding. Yang sering kami lakukan adalah memprediksi atau membayangkan apa yang akan terjadi kalau sekarang Ibu masih hidup, dan sikapnya terhadap segala technology advancement - sambil menatap foto beliau tepat di mata, nonetheless. Menanti balasan hinaan dari beliau yang (untungnya? sayangnya?) nggak ada.

Ibu adalah seorang yang (sok) trendi dan selalu berusaha menyesuaikan suhu dengan anak-anaknya, jadi memikirkannya saja sudah. Ngomong-ngomong, saya sebenarnya selalu merasa Ibu licik: saya hanya bisa membayangkan Ibu saya dengan wajahnya terakhir kali, sementara saya sudah bertambah tua hampir sembilan tahun. Dying young was terrible but sure has some advantages.... no, I was just satirical. Sorry Mom.

Well, I'd love to have a lunchdate with Mom in a present day timeline (I still want to be alive though).



Mungkin beliau akan punya tablet atau smartphone - dan masih dengan jalannya yang luar biasa cepat, mengajak saya untuk makan di restoran yang aneh atau kafe lucu. She was once a journalist, jadi dia selalu punya akses ke dunia-aneh-entah-apa. In the past she would bring me to some concert, some poem reading, some brand launch, some charity, some-some-some yang lainnya.

Dulu buat saya hal itu ngeselin, ngebosenin, dan saya sering minta dibayar pakai KFC atau sebuah komik Elex. Tapi mengingat saya juga sudah dewasa, barangkali saya malah kepingin diajak. Yang pasti kami akan adu pendapat dulu. I used to follow her advices for everything I do - karena menurut beliau, dia sangat mengerti "fashun" - tapi sekarang saya sudah besar dan sok dan bisa protes segala macam.

Maka anggap saja kami akan makan di kafe yang menjual kue-kue. Atau bakso tahu Griya, karena katanya cuma itu yang enak. I bet she'd have loved Harvest cheesecakes.

Obrolan kami sejak dulu macam-macam, mulai dari rebutan cowok ganteng di angkot, sampai soal cita-cita. Sebenarnya sulit juga membayangkan akan seperti apa obrolan kami sekarang; I spent my end of teenage years into young-adulthood without her. I didn't experience those huge mother-daughter fight, or else. Mungkin akan lebih mudah membayangkannya kalau ini sebuah reuni setelah lama tidak bertemu.

Oh ya, beliau hafal semua celebrity crush saya sejak zaman Nicky Westlife sampai Daniel Radcliffe. Semua selera kami beda karena dia lebih suka Shane Filan dan Nick Carter. Preferensi kami makin jauh ketika saya jatuh cinta pada lelaki 2D bernama Uchiha Sasuke, sementara Ibu saya lupa ngeceng cowok karena lebih sibuk dengan perawatan pasca-operasi. So most likely, sekarang dia akan sibuk menghina selera saya terhadap Top Bigbang. Nggak apa-apa, saya bakal balas menghina tahi lalat Enrique Iglesias. Terlalu besar. Kami pernah bicara soal keuntungan selera cowok kami beda: nggak akan rebutan pacar.

Sayangnya di tahun 2016 Enrique Iglesias sudah nggak musim, sudah tua. At least Johnny Depp masih tampan dan bibirnya juga masih menggoda biarpun sudah tua, so we'd settled at that. Pembicaraan soal pria tampan masih akan jadi hal yang penting, saya prediksi. Berlanjut dengan a little pity party karena Ayah nggak berwajah seperti seleb-seleb yang barusan disebut. Nevermind, she loved Dad with all her mighty even when she denied it hard.

Saya punya teman dekat sewaktu di SD dan SMP - tetapi bukan sahabat-sahabat seperti di AADC, di mana ada hal dramatis menangis dan tertawa bersama. Saya nggak punya "geng" yang begitu dekat seperti sisterhood travelpants atau sejenisnya. Begitu lulus, we kind of forget each other - we were having a good time but we never really stick around. Mungkin saya emang culun. Atau memang sulit bersosialisasi. Hell, saya bahkan pernah berurusan sama wali kelas SD soal ini karena Ibu saya kelewat panik anaknya di-bully.

Mengenang masa itu sekarang, bersama imajinasi Ibu saya, dua potong kue manis, dan dua gelas lemon tea - juga imajinasi - mungkin itu terjadi karena Ibu saya adalah orang yang mengisi posisi sahabat terdekat. Reuni di kepala saya seperti pertemuan dengan sahabat lama, yang hanya perlu duduk dan semua obrolan akan mengalir dengan sendirinya.

I brought her new teen magazines. We discussed fashion. We discussed boys. To some cheesy extent, saya pernah ngajak Ibu saya mengisi kuis Ibu-anak di majalah GADIS (kadar kecocokan: 70%) dan kami nonton premiere AADC berdua. (Mata saya ditutup waktu adegan Rangga dan Cinta berciuman di bandara, by the way.)

Di satu sisi, itu lumayan menyebalkan karena saya begitu attached dengan Ibu. Beliau mengatur pola pikir dan perilaku, sampai selera. Saya nggak bisa punya selera sendiri karena sering dikritik, dan juga sulit mandiri karena terbiasa diatur oleh Ibu. Didukung dengan Ayah yang keras, saya zaman dulu cenderung tertutup dan menurut orangtua - sekalinya radikal, I rebeled against them and make a mess or big fuss. Macam kabur dari rumah atau buang-buang uang orangtua tanpa izin.

Tapi di sisi lain, sangat menyenangkan memiliki sahabat yang sangat dekat dijangkau. Kami mengobrol seperti teman dan beliau juga menjadi mentor. Yang paling terasa setelah beliau tidak ada, adalah I lost my mentor.

Hal-hal yang selalu saya ceritakan setiap pulang sekolah, sekarang hanya bisa diceritakan pada foto. Kebingungan yang dulu bisa dikomunikasikan sambil memasak di dapur sekarang hanya bisa diceritakan pada foto. Membayangkan beliau saat ini hanya bisa dilakukan dengan kacamata nostalgia dengan wajah yang konstan seperti foto-foto yang ada, dengan suara samar-samar, nyaris terlupakan.

Beliau adalah sahabat lama yang tidak bergerak - saya maju dan beliau tetap di sana, bersama dengan kenangan yang tidak bertambah dan ingatan saya yang repetitif. Selalu ada keinginan untuk menarik beliau maju dan mengajaknya ke depan, mensejajarkan pandangan kami bersama, mengajaknya melihat apa yang saya lihat.

Dalam imajinasi saya, Ibu masih mengejek dan memberi nasihat bersamaan. She smiled, though, just as her photo on our wall. Beliau akan mengkritik semua pilihan saya, tapi saya akan membalas lagi, barangkali, dan saya tidak bisa membayangkan sisanya. It's just her, smiling constantly like a photo. Kira-kira apa yang akan dia katakan selain itu? Did I do well? Apakah yang sekarang cukup? Apakah beliau senang? Nasihat seperti apa yang akan beliau berikan?

Semua pertemuan saya dengan beliau akan selalu menjadi konteks nostalgia dan prediksi yang dibentuk dari ingatan nyaris pudar. Kadang-kadang saya suka kesal sendiri karena menuliskan hal-hal seperti ini pun jadi hal yang repetitif. It's boring. Sebanyak apa pun yang saya coba gali, akan ada batasnya karena bahannya sudah habis. Itu nyebelin. Masih banyak yang ingin saya obrolkan dan pikirkan, yang ingin saya bagi, yang ingin saya minta nasihatnya. Tapi untuk beliau, waktu berhenti di tahun 2007 sementara saya dan dunia sudah berpindah dekade.

It felt stupid because I still can't get over it; because death is just a life occurrence! Don't fret! Don't be angry! Don't be a childish person! You're supposed to be an adult. An adult is always cool about death, especially if it happened years ago already. People in other side of the world are hungry and you're angsting about this kind of thing in your head, I'd tell myself.

The same self tell me that it's alright to do so, though. So maybe I'll keep writing things like this once in a while, with those same repetitive memories and images. Those fragments and memories and some recurring hazy dreams about our meeting under the blue sky, with her smiling and fighting over handsome guys. Choi Seunghyun itu ganteng, Bu, sori, bahkan biarpun rambutnya biru.

Saya akan selalu bisa bertemu lagi dengan reuni singkat di kepala. Saya masih bisa bercerita tentang kehidupan saya sekarang dan beliau juga masih akan tersenyum dengan cara yang sama. Karena beliau masih ada di dalam imajinasi saya, dan tersenyum dari foto di dinding rumah kami, dengan wajah yang selalu muda. Years later I'll have more wrinkle than she was and my children would make a remark about how could their grandma was more beautiful than their mother, and you'd silently claimed your victory. Okay, I'll let you win that round.

And I'll be happy with that because that's all I ever have about her.

You May Also Like

0 comments

let's share, do tell! got a blog? I'll visit yours too :)