Weekend Book Club: Yasunari Kawabata

by - March 18, 2016

yasunari kawabata
not the actual published cover.

Beberapa waktu lalu saya sudah janji pada diri sendiri untuk membaca buku lebih banyak. Nah, dua judul buku di atas adalah dua buku yang saya baca bulan Februari kemarin. Memang sih, I kind of cheating karena membaca buku ini dalam bentuk ebook (bajakan). Habis, cetakan Indonesianya sudah lama. Selain itu, saya memang hanya ingin membaca yang bahasa Inggris karena faktor penerjemahnya: Khususnya Snow Country.

Siapa itu Yasunari Kawabata? Beliau adalah pemenang Nobel literatur pertama dari Jepang (tahun 1968). Karya-karyanya dikenal karena kelihaian prosa dan kepandaiannya meramu kata-kata. Saya 'berkenalan' dengan beliau lewat situs rekomendasi bacaan Goodreads. Dua novel yang saya baca merupakan judul yang disebut dalam penganugerahan nobel tersebut.

"for his narrative mastery, which with great sensibility expresses the essence of the Japanese mind....."

Ngomong-ngomong, kedua novel ini pendek, hanya berkisar 200-an halaman. Maka dari itu juga saya senang membacanya. (wink wink). So without further ado, here's my kind of (super) short review.



SNOW COUNTRY


Snow Country (Judul asli: Yukiguni) bercerita tentang hubungan Shimamura, seorang dilettante paruh baya dari Tokyo, dengan Komako, seorang Geisha onsen di kota yang tidak disebut namanya. Kota itu terletak jauh dari perkotaan, selalu ditutup salju, dan untuk menuju ke sana kita harus menembus terowongan panjang menggunakan kereta. Shimamura datang ke kota itu setiap tahun, meninggalkan keluarganya untuk bermain ski, bersantai, dan perlahan-lahan, terlibat dengan Komako - juga Yoko, gadis yang mempesonanya saat bertemu di dalam kereta.

Shimamura adalah peminat balet yang tidak mau menonton langsung balet, memilih hanya membaca dari buku dan mengulasnya dalam tulisan. Komako adalah geisha yang harus belajar kesenian sendiri karena kota itu terlalu kecil dan tidak menawarkan banyak tempat untuk belajar. Kota onsen itu bagaikan tempat berlari dari masa peperangan sewaktu novel ini dibuat. Dengan cara yang halus novel ini memaparkan tentang perbedaan status sosial dan ekonomi, masuknya pengaruh barat ke Jepang, dan juga hubungan cinta yang terbelit di dalamnya.

Drama yang dituliskan di dalam Snow Country sederhana namun rumit, beralur cepat tapi juga lambat, ditulis halus tapi juga dramatis. Membaca buku ini menyenangkan meskipun saya butuh membaca beberapa halaman dua kali. Kawabata gemar memasukkan metafora halus yang tak terlihat. Ketika plot baru dibuka, kita akan membalik halaman-halaman sebelumnya, dan membacanya kembali dengan pengertian yang berbeda.


THE OLD CAPITAL


Berbeda dengan Snow Country yang cenderung berat, The Old Capital (judul asli: Koto) rasanya lebih ringan, namun tidak meninggalkan unsur drama yang menjadi ciri khas. Chieko Sada adalah anak dari Takichiro dan Shige, pengusaha Kimono Kyoto yang sekarang sedang mengalami kesulitan bisnis. Seiring dengan bertambah dewasanya Chieko, dia menemukan fakta bahwa dia adalah anak angkat. Chieko tidak pernah memikirkan siapa orangtua aslinya karena kedua orangtua angkatnya sangat mencintainya.

Namun suatu hari dia bertemu dengan gadis yang mirip dengan dirinya. Gadis itu diketahui bernama Naeko. Berbeda dengan Chieko yang tinggal di kota dan diperlakukan sebagaimana putri keluarga yang berpengaruh, Naeko berasal dari keluarga pekerja yang tinggal di pinggir hutan. Perlahan-lahan Chieko berkenalan lebih lanjut dengan Naeko, perihal dirinya, juga tempat asalnya. Tanpa disadari, hal ini berpengaruh pada keluarga Sada dan juga lelaki-lelaki yang mendekati Chieko.

Membaca novel ini seperti diajak berjalan-jalan berkeliling Kyoto, menelusuri gangnya yang sempit, melihat satu per satu festival yang menjadi tradisinya, mengikuti perubahan musim lewat mata Chieko dan karakter-karakternya. Beberapa halaman terasa seperti ensiklopedia budaya atau penjelasan promosi wisata alih-alih novel, sehingga kadang saya mengantuk.

Tapi seperti Snow Country, kita dibawa pelan-pelan dan tak menyadari kalau konflik sudah mulai terbentuk. Berbagai metafora yang ada juga membuat saya perlu membaca beberapa kali sambil menebak-nebak kira-kira apa yang dimaksudkan si pengarang. It's fun and entertaining.

OVERALL IMPRESSION


Yasunari Kawabata, seperti kata pengulas karyanya ketika memenangkan Nobel, memang piawai merangkai kata-kata. Tulisannya cantik dan penuh dengan estetika Jepang, namun tidak membuat tulisannya terkesan kuno. Biarpun ditulis tahun 1950-an, tulisannya bernapaskan pembaruan yang mulai menulis dengan cara penulisan sinematis.

Bila sebelumnya anda pembaca karya novel-novel yang "penuh"; beralur jelas dan dramatik seperti film blockbuster, mungkin akan kecewa membaca karya Kawabata. Novelnya tidak memiliki ending yang jelas dan membiarkan pembaca membentuk persepsinya sendiri. Namun di situlah letak keindahannya - dan juga memperlihatkan realita bahwa kehidupan memang begitu: tidak ada akhir dan tidak sempurna. Membaca buku ini seperti mengalir dengan air yang tenang, menikmatinya perlahan-lahan, selesai, lalu begitu saja sudah. But of course, it has an enchanting impression.

Tentu saja saya juga masih ingin membaca yang lain, seperti A Thousand Cranes atau Beauty and Sadness. Mudah-mudahan sempat mencari dan membacanya.


You May Also Like

0 comments

let's share, do tell! got a blog? I'll visit yours too :)